PRO LOCKDOWN! meski ini pilihan sulit.

By | March 25, 2020

PRO LOCKDOWN! meski ini pilihan sulit. Empat tahun lalu, terjadi baku tembak antara polisi dan teroris di Jakarta. Kejadiannya disiarkan langsung di TV. Sebagian besar masyarakat yg kebetulan berada di tempat kejadian malah menonton.

Dianggap hiburan. Orang Indonesia memang secara kurtural kurang memiliki sense of crisis. Maka dari itu, sekedar himbauan untuk melakukan self distancing tidak akan efektif. Masyarakat harus dipaksa!

Dengan asumsi orang yang sembuh jadi kebal, bisa dipastikan wabah korona akan berlalu. Yg menjadi pertanyaan, berapa harga yang harus dibayar saat setiap hari ada petugas medis yang meninggal?

Keselamatan petugas medis harus menjadi prioritas utama. Apa jadinya setelah wabah berlalu sistem kesehatan kita hancur karena banyak tenaga medis gugur?

Siapa yg akan menjaga populasi dari wabah lain seperti DBD dan TBC pasca korona? Belum lagi penyakit2 lain dan kemungkinan wabah baru beberapa tahun kedepan.

Slogan virus itu ”comeback stronger!”. Sebelum teradi wabah korona saja rasio jumlah dokter dan populasi kita sangat kecil dibanding negara2 berkembang lain. Kita harus berfikir panjang!

Bagaimana dengan saudara2 kita yng hidupnya mengandalkan penghasilan harian? Ini pekerjaan pemerintah. Anggaran untuk kartu pra-kerja dan insentif untuk pariwisata harusnya bisa dialihkan untuk kondisi krisis seperti sekarang. Pemerintah juga harus memastikan logistik tetap berjalan meski dengan keterbatasan.

Berikut adalah hasil simulasi setahun kedepan dari 4 sekenario yang mungkin terjadi

Tujuan utama adalah untuk melihat akibat dari berbagai sekenario dan efeknya terhadap sistem kesehatan Indonesia. Simulasi dilakukan dengan menggunakan model SIR dan Monte Carlo sebanyak 10000 kali (https://github.com/agusisma/covid). Salah satu asumsi utama adalah orang yang sembuh mejadi kebal dan setahun kedepan vaksin belum ditemukan.

  1. Do nothing. Pemerintah dan masyarakat tidak menganggap serius. Nilai R0=2.2 dengan variansi 0.2 dan error diasumsikan berdistribusi normal. Ini adalah sekenario terburuk dan unlikely terjadi.
  2. Minimum effort. Seperti yg terjadi sekarang. Nilai awal R0=2.2 dengan variansi 0.2 dan error diasumsikan berdistribusi normal. Nilai R0 akan berkurang seiring waktu karena effort pemerintah dan tumbuh kesadaran dari masyarakat.
  3. Total lockdown. Seperti yg dilakukan di Wuhan. Dilaksanakan selama 1 bulan. Nilai awal R0=2.2 dengan variansi 0.2 dan error diasumsikan berdistribusi normal. Nilai R0 secara dramatis akan berkurang setelah 1 minggu lockdown meski angka kematian akan tetap tinggi. Total lockdown disimulasikan di bulan Mei dan Juni.
  4. Periodik lockdown. 1 bulan partial lockdown, satu bulan minimum effort. Ini adalah solusi kompromi. Nilai awal R0=2.2 dengan variansi 0.2 dan error diasumsikan berdistribusi normal. Setiap lockdown direstart, nilai R0 berkurang karena effort pemerintah dan kesadaran masyarakat.

Hasilnya :

  1. Do nothing mengasumsikan tidak ada perubahan prilaku masyarakat seperti sebelum wabah. Dengan R0=2.2, jumlah yang terinfeksi akan bertambah secara eksponensial. Puncaknya diperkirakan awal Juli dengan jumlah total yang terinfeksi mencapai 85% dari populasi. Yang 15% ”terampuni” karena efek herd immunity. Dengan asumsi mortaliy rate 1%-4% (saat ini Indonesia 8%), maka jumlah total yg meninggal sekitar antara 2.3-9 juta jiwa. Yang pasti, RS akan kewalahan dan sistem kesehatan bisa kolaps. Sisi positifnya wabah akan berlalu dengan cepat.PRO LOCKDOWN! meski ini pilihan sulit.
  2. Minimum effort. Dengan sedikit effort, puncak wabah akan bergeser ke september, dengan 60% populasi terinfeksi dan tingkat kematian antara 1.5-6.3 juta jiwa. Sama seperti do nothing, sistem kesehatan akan rusak dan negara akal kelimpungan saat wabah baru atau wabah tahunan datang.PRO LOCKDOWN! meski ini pilihan sulit.
  3. Total lockdown. Brutal seperti di Wuhan. Secara drastis menurunkan R0, jumlah yang terinfeksi dan tingkat kematian. Sistem kesehatan bisa terselamatkan. Petugas medis akan kewalahan diawal tapi jelas lebih baik dari 2 option diatas. Semakin awal dilakukan akan semakin baik. Sisi negatifnya ada kemungkinan wabah datang kembali, apalagi kalau di negara lain wabah masih ada.PRO LOCKDOWN! meski ini pilihan sulit.
  4. Periodic (partial) lockdown adalah solusi kompromi dan cukup feasible untuk indonesia. Satu bulan partial lockdown (social distancing masih ketat dilakukan), dan satu bulan minimum effort (sekolah dibuka kembali, ojol aktif, dll). Penerapannya dilakukan secara adaptive. Artinya, kalau setelah satu kali partial lockdown R0 kurang dari satu, maka tidak perlu lockdown lagi. Sisi negatifnya masyarakat harus menyesuaikan ritme on-off seperti ini dan wabah berlangsung lebih lama. Selain periodik bisa juga dilakukan secara intermittent, artinya kebijakan berubah ketika ada indikasi tertentu seperti kenaikan R0.PRO LOCKDOWN! meski ini pilihan sulit.

Kesimpulan :

  • Lockdown perlu dan pemerintah harus mulai memikirkan teknis pelaksanaannya, terutama bagi masyarakat yang mengandalkan penghasilan harian.
  • Well being petugas kesehatan harus menjadi prioritas utama, dengan menyediakan peralatan yang memadai. Jangan sampai sistem kesehatan hancur pasca korona.
  • Ketegasan, keterbukaan, dan sosialisasi kepada masyarakat harus dilakukan supaya tidak menimbuklan kepanikan saat lockdown dilakukan.

(sumber)

Comments

comments