Solusi Gotong Royoang Menghadapi Wabah Virus Corona

ANDAI BISA KOMPAK SEPERTI INI DALAM MENGHADAPI WABAH COVID19
Oleh : DLT

Suatu Rukun Warga (RW) atau dusun, sebut saja RW 8, berpenghuni 60 kepala keluarga dengan jumlah jiwa 300 orang.

Begitu ada instruksi stay at home, Pak RW bersama jajarannya bergerak cepat. Dia minta data orang miskin dan kaya ada berapa. Juga warganya yang jadi buruh bangunan, kuli panggul, pemulung, pengayuh becak, opang, ojol, juru parkir, penjual jamu gendong dan sejenis itu, yang secara singkat disebut golongan tiga, berapa jumlahnya dan dipetakan kondisi perekonomian mereka.

Solusi Gotong Royoang Menghadapi Wabah Virus Corona

Misal ada 10 warga di RW 8 yang masuk kategori golongan tiga dengan kondisi tak mampu sama sekali.
Dilanjut dengan warga golongan dua dengan kriteria pekerja bergaji UMR dan masih punya sedikit simpanan dan warga golongan satu yang kaya.

Pak RW tinggal beri pengumuman ke seluruh warga golongan satu dan dua, diminta kesediaan dan komitmen untuk membantu secara patungan atau iuran dengan perhitungannya sebagai berikut,

Warga yang harus dibantu atau golongan 3 ada 10 orang.
Warga golongan 2 ada 30 orang.
Warga golongan 1 ada 20 orang.

Warga golongan 2 diminta membantu hanya 100.000,- untuk 14 hari, atau hanya 7.200/hari. Maka akan terkumpul dana 3.000.000,- dari warga golongan dua.
Warga golongan 1 diminta membantu 200.000,- untuk 14 hari, atau 14.300/hari.
Maka akan ada dana terkumpul 4.000.000,- dari warga golongan satu.

Jadi total dana dari golongan 1 dan 2 untuk menopang hidup 10 warga golongan 3 adalah 7.000.000 atau 700.000 per kepala keluarga selama 14 hari atau 50.000/hari/kepala keluarga.

Cukup? Kalau mengikut hawa nafsu dan keinginan, uang bantuan solidaritas warga 50.000/hari itu tidak akan cukup, tetapi untuk pribadi penuh syukur, uang bantuan 50.000,- itu insyaAllah cukup.

BACA JUGA :  SEDIH! THE LAST MOMENT DOKTER HADIO, #DIRUMAHAJA YA, BIAR GAK KEJADIAN LAGI! BANTU PARA NAKES INI!

Apalagi jika warga ingin memberi apa-apa lagi dalam bentuk barang kepada warga golongan 3, seperti beras, minyak, mie instant, dll. InsyaaAllah cukup untuk menopang hidup. Apalagi kalau warga golongan dua dan satu mau memberi sedekah uang lebih dari jumlah yang dipatok tadi.

Bagaimana kalau di suatu RW warga golongan 3 jauh lebih banyak dari golongan satu dan dua?
Solusinya adalah subsidi silang. RW yang secara ekonomi surplus, bisa membantu RW yang secara ekonomi masih minus. Yang penting kejujuran, keterbukaan, solidaritas, keikhlasan, prasangka baik dan komunikasi intensif antar RW.

Hanya 14 hari lho. Jika kompak dan solidaritas ini terbangun kuat, insyaAllah kita semua bisa melewati masa genting ini.
Sehingga 300 jiwa di RW tersebut bisa stay at home tanpa bingung memikirkan biaya hidupnya dari mana.
Contoh sudah ada saat Jogja diguncang gempa besar, gotong-royong warga sangat kentara hingga wilayah yang kena dan terdampak gempa bisa pulih seperti sediakala dalam waktu cepat. Sungguh salut saya kepada warga Jogja yang saling bahu-membahu menuju pulih.

Dari segi teknis, rincian tugasnya sebagai berikut:

Harus dipetakan ada berapa buah grosir sembako dan pasar tradisional di dekat RW tersebut. Juga ada berapa warga yang punya mobil yang bersedia keluar rumah untuk belanja.

Misal ada 5 orang yang punya mobil dan bersedia keluar rumah dengan segenap prosedur proteksi diri, maka 5 orang inilah yang keluar wilayah RW tersebut untuk belanja, di mana masing-masing orang belanja untuk 10 kepala keluarga. Agar tidak terjadi penularan virus, setiap belanjaan dikemas dalam plastik karung semodel kantung sampah besar.

Sebelum disentuh warga pemilik belanjaan di RW 8, 1 orang dari 9 kepala keluarga melakukan upaya desinfektan berupa menyeka bagian kantung belanjaan dengan cairan desinfektan sebelum diambil oleh 10 warga penitip belanjaan tadi. Maka, hanya ada 5 warga yang keluar RW 8 tersebut untuk belanja. Efektif? Kelihatannya ya efektif.

BACA JUGA :  Kalau tidak bisa menghargai, setidaknya jangan menyakiti....

Untuk pertolongan orang sakit pun sama. Di RW itu berapa nurse, bidan dan dokter. Orang sakit di RW tsb, pertolongan pertamanya hanya oleh nurse, bidan atau dokter yang tinggal di wilayah RW tersebut dahulu, baru kalau tidak sanggup, orang sakitnya dikirim ke tempat pelayanan kesehatan terdekat dengan diantar oleh 1 atau 2 orang saja jika terjadi kelangkaan sarana ambulance evakuasi. Bukan diantar oleh orang waras, segar bugar dan sehat yang jumlahnya penuh semobil pick up bak terbuka seperti layaknya mau menonton pertandingan sepak bola.

Apa sistem ini efektif? Sekali lagi saya bertanya, tepatnya mempertanyakan ide saya sendiri.
Mohon maaf, saya tidak bisa jawab efektif atau tidak karena belum pernah menjalankannya. Akan tetapi, ide saya bisa dicoba dengan syarat seluruh warga harus kompak dan patuh.

Timbul pertanyaan. Bagaimana dengan warga yang punya kreditan motor, kulkas, ponsel, laptop, buldoser, odong-odong, bus kota, mukena princess lima jutaan, paket skincare tujuh jutaan, sandal jepit bersol emas, korek kuping berhias berlian, cicilan rumah tujuhbelas lantai atau sapu terbang seharga seratus juta?

Lho, itu urusan pribadi masing-masing. \’Mosok yo\’ harus ditanggung ramai-ramai juga? Enak banget ya? Hanya meminta solidaritas dan kekompakan untuk memutus mata rantai penyebaran virus demi keselamatan seluruh warga, kok tebusannya harus ikut menanggung cicilan demi cicilan?

Ya tapi kan cicilan demi cicilan itu harus dibayar. Kalau pencicil tidak keluar rumah untuk kerja, nggak bisa bayar dong?
Ya, betul, betul sekali.

Solusi untuk itu pun bisa dibuat. Caranya, pemerintah menerbitkan policy untuk MEMUNDURKAN jatuh tempo seluruh cicilan apapun sampai kegentingan akibat wabah mereda dan penyebaran virus bisa dieliminir.

BACA JUGA :  BACA! 14 HARI YANG MENENTUKAN ( Terkait Virus Corona )

Alasan pemunduran jatuh tempo bisa menggunakan klausul force majeur, seperti waktu musibah tsunami di Aceh, gempa besar di Padang tahun 2007, disusul gempa besar di Jogja, letusan Sinabung, letusan Merapi dan sekarang Covid19, klausul force majeur bisa diterapkan.

Demikian pula untuk tunggakan listrik termasuk mereka yang kehabisan token listrik, pemerintah bisa menerbitkan suatu kebijakan yang menolong warga agar tidak terjadi pemutusan instalasi listrik selama kegentingan masih berlangsung.

Ide ini saya sampaikan bukan karena saya cinta virus apalagi fangirl Covid19. Sungguh, saya menulis ide ini karena saya muslim yang sadar atas perlunya ikhtiar sebelum bertawakkal. Juga karena saya warga negara Indonesia yang menyayangi dan berempati terhadap seluruh warga Indonesia dan berbagi atmosfir yang sama dengan saya, yakni atmosfir negara Indonesia.

Sungguh saya ingin bangsa saya kuat, kembali menjadi macan Asia, subur makmur, tata tentrem kerta raharja, gemah ripah repeh rapih dan bisa melewati badai wabah dengan selamat. Aamiin.

Bandung, 20 Maret 2020
Saya DLT,
GET WELL SOON, INDONESIA. (sumber)

Comments

comments