Ini Jepang di Tahun 1950-an, Momen Kebangkitan Pasca Bom Atom Hiroshima

By | July 26, 2018

Perang membawa penderitaan bagi rakyat Jepang dan rakyat di wilayah jajahan Jepang. Berjuta-juta orang tewas di negara-negara Asia yang diduduki Jepang di bawah slogan “Kemakmuran Bersama Asia”. Hampir semua industri dan infrastruktur di Jepang hancur akibat perang. Pihak Sekutu yang dipimpin oleh Amerika Serikat melakukan repatriasi besar-besaran etnik Jepang dari negara-negara Asia yang pernah diduduki Jepang. Pengadilan Militer Internasional untuk Timur Jauh yang diselenggarakan pihak Sekutu mulai 3 Mei 1946 berakhir dengan dijatuhkannya hukuman bagi sejumlah pemimpin Jepang yang terbukti bersalah melakukan kejahatan perang.

Pada tahun 1947, Jepang memberlakukan Konstitusi Jepang yang baru. Berdasarkan konstitusi baru, Jepang ditetapkan sebagai negara yang menganut paham pasifisme (cinta damai) dan mengutamakan praktik demokrasi liberal. Pendudukan AS terhadap Jepang secara resmi berakhir pada tahun 1952 dengan ditandatanganinya Perjanjian San Francisco. Walaupun demikian, pasukan AS tetap mempertahankan pangkalan-pangkalan penting di Jepang, khususnya di Okinawa. Perserikatan Bangsa-Bangsa secara secara resmi menerima Jepang sebagai anggota pada tahun 1956.

Setelah mengalami kekalahan dalam Perang Dunia kedua, Jepang mulai membuka lembaran baru di tahun 1950-an. Jepang mengalami pertumbuhan ekonomi yang pesat, dan menempatkan Jepang sebagai kekuatan ekonomi terbesar nomor dua di dunia, dengan rata-rata pertumbuhan produk domestik bruto sebesar 10% per tahun selama empat dekade. Langsung saja kita buka foto-fotonya.

Seorang wanita muda Jepang dalam busana kimono tampak ikut terjangkit demam Hula-Hoop yang saat itu melanda Amerika dan Jepang, dalam foto bertanggal 30 Oktober 1958. (Photo by Mitsunori Chigita/AP Photo via The Atlantic)


Seorang wanita muda Jepang dalam busana kimono tampak ikut terjangkit demam Hula-Hoop yang saat itu melanda Amerika dan Jepang, dalam foto bertanggal 30 Oktober 1958. (Photo by Mitsunori Chigita/AP Photo via The Atlantic)

 

Para wanita menyambut rombongan tentara Jepang yang dipulangkan setelah menjadi tahanan perang, pada 26 April 1950. Para tentara ini tampak membawa abu rekan-rekan mereka yang tewas selama masa tahanan. (Photo by AP Photo via The Atlantic)

Para wanita menyambut rombongan tentara Jepang yang dipulangkan setelah menjadi tahanan perang, pada 26 April 1950. Para tentara ini tampak membawa abu rekan-rekan mereka yang tewas selama masa tahanan. (Photo by AP Photo via The Atlantic)

Mesin dari pesawat pengebom B-26 milik Angkatan Udara Amerika Serikat meraung-raung sejenak sebelum akhirnya lepas landas dari pangkalan Amerika Serikat di timur jauh Jepang, pada 20 September 1950, untuk misi peperangan di Korea. Pesawat pengebom bermesin ganda ini diterbangkan dalam rangka membantu misi pasukan darat PBB di sana. (Photo by AP Photo/U.S. Air Force via The Atlantic)

Mesin dari pesawat pengebom B-26 milik Angkatan Udara Amerika Serikat meraung-raung sejenak sebelum akhirnya lepas landas dari pangkalan Amerika Serikat di timur jauh Jepang, pada 20 September 1950, untuk misi peperangan di Korea. Pesawat pengebom bermesin ganda ini diterbangkan dalam rangka membantu misi pasukan darat PBB di sana. (Photo by AP Photo/U.S. Air Force via The Atlantic)

Seorang gadis Jepang secara hati-hati menyortir butiran mutiara yang dikembangkan di lahan budidaya mutiara Kokichi Mikimoto, di dekat ujung Semenanjung Ise, Jepang, 12 Oktober 1949. Mutiara ini disortir berdasarkan warna, ukuran, serta bentuknya. (Photo by AP Photo via The Atlantic)

Seorang gadis Jepang secara hati-hati menyortir butiran mutiara yang dikembangkan di lahan budidaya mutiara Kokichi Mikimoto, di dekat ujung Semenanjung Ise, Jepang, 12 Oktober 1949. Mutiara ini disortir berdasarkan warna, ukuran, serta bentuknya. (Photo by AP Photo via The Atlantic)

 

Untuk menarik perhatian publik, sebuah department store di Tokyo menggunakan model-model hidup untuk memamerkan jajaran produk pakaian renang terbaru mereka, 5 Juni 1950. Hujan tidak menghalangi para pejalan kaki yang penasaran tersebut, dan baik para model maupun penontonnya tampaknya menyukai ide saling memandang melalui kaca display tersebut. (Photo by AP Photo via The Atlantic)

Untuk menarik perhatian publik, sebuah department store di Tokyo menggunakan model-model hidup untuk memamerkan jajaran produk pakaian renang terbaru mereka, 5 Juni 1950. Hujan tidak menghalangi para pejalan kaki yang penasaran tersebut, dan baik para model maupun penontonnya tampaknya menyukai ide saling memandang melalui kaca display tersebut. (Photo by AP Photo via The Atlantic)

Di pulau Iwo Jima, para pekerja Jepang memotong rongsokan kapal perang yang nyaris terkubur pasir di pantai pada 21 Februari 1954. Setelah sembilan tahun absen, orang Jepang kembali lagi ke pulau Iwo Jima, tapi sebagai pekerja yang bertugas mengambil barang yang bisa diselamatkan. (Photo by AP Photo via The Atlantic)

Di pulau Iwo Jima, para pekerja Jepang memotong rongsokan kapal perang yang nyaris terkubur pasir di pantai pada 21 Februari 1954. Setelah sembilan tahun absen, orang Jepang kembali lagi ke pulau Iwo Jima, tapi sebagai pekerja yang bertugas mengambil barang yang bisa diselamatkan. (Photo by AP Photo via The Atlantic)

Para penonton ini membawa kipas dalam sebuah pertandingan baseball antara Universitas Waseda melawan Universitas Keio di Meiji Park, Tokyo, 1 Juni 1954, Di sebelah kiri yang berdiri adalah semacam pemandu sorak yang memandu para suporter yang membawa kipas yang diwarnai sesuai dengan warna almamater mereka. (Photo by AP Photo via The Atlantic)

Para penonton ini membawa kipas dalam sebuah pertandingan baseball antara Universitas Waseda melawan Universitas Keio di Meiji Park, Tokyo, 1 Juni 1954, Di sebelah kiri yang berdiri adalah semacam pemandu sorak yang memandu para suporter yang membawa kipas yang diwarnai sesuai dengan warna almamater mereka. (Photo by AP Photo via The Atlantic)

 

Sepuluh ribu blitz foto menyalakan sebuah stasiun TV baru dan menara di Tokyo pada 26 Maret 1955, yang disebut sebagai kilatan blitz terbesar di dunia. Radio Tokyo, dalam koneksinya dengan sebuah perusahaan lampu blitz lokal, meledakkan 10.000 lampu tersebut pada antena baru setinggi 158 meter yang dimilikinya, untuk mengingatkan warga Tokyo bahwa mereka akan mengudara pada tanggal 1 April. (Photo by AP Photo via The Atlantic)

Sepuluh ribu blitz foto menyalakan sebuah stasiun TV baru dan menara di Tokyo pada 26 Maret 1955, yang disebut sebagai kilatan blitz terbesar di dunia. Radio Tokyo, dalam koneksinya dengan sebuah perusahaan lampu blitz lokal, meledakkan 10.000 lampu tersebut pada antena baru setinggi 158 meter yang dimilikinya, untuk mengingatkan warga Tokyo bahwa mereka akan mengudara pada tanggal 1 April. (Photo by AP Photo via The Atlantic)

Empat puluh lima fotografer mengabadikan foto kabinet Jepang terbaru di kediaman dinas Perdana Menteri di Tokyo, 17 Desember 1954. Sebuah surat kabar di Jepang biasanya menugaskan tiga atau empat fotografer untuk bisa menangkap gambar sebuah peristiwa dari semua sudut pandang yang dimungkinan. (Photo by AP Photo via The Atlantic)

Empat puluh lima fotografer mengabadikan foto kabinet Jepang terbaru di kediaman dinas Perdana Menteri di Tokyo, 17 Desember 1954. Sebuah surat kabar di Jepang biasanya menugaskan tiga atau empat fotografer untuk bisa menangkap gambar sebuah peristiwa dari semua sudut pandang yang dimungkinan. (Photo by AP Photo via The Atlantic)

Para wanita perawat dari pasukan Bela Diri Jepang yang baru dibentuk, di Hokkaido, Jepang, dalam sebuah latihan perang pada 20 Oktober 1955. Pasukan Jepang, menggunakan peralatan yang disuplai oleh Amerika Serikat melakukan latihan militer pertama kalinya setelah perang dunia dengan sebuah kelompok pengawas dari Amerika Serikat dan pengawas militer dari negara asing lainnya, dalam sebuah skenario pertahanan melawan "musuh bayangan" yang menginvasi kepulauan Jepang. (Photo by AP Photo via The Atlantic)

Para wanita perawat dari pasukan Bela Diri Jepang yang baru dibentuk, di Hokkaido, Jepang, dalam sebuah latihan perang pada 20 Oktober 1955. Pasukan Jepang, menggunakan peralatan yang disuplai oleh Amerika Serikat melakukan latihan militer pertama kalinya setelah perang dunia dengan sebuah kelompok pengawas dari Amerika Serikat dan pengawas militer dari negara asing lainnya, dalam sebuah skenario pertahanan melawan “musuh bayangan” yang menginvasi kepulauan Jepang. (Photo by AP Photo via The Atlantic)

Sebuah area di Tokyo, terlihat dari langit pada 5 Agustus 1955. Bangunan-bangunan modern telah menghapus bekas reruntuhan blok-blok yang telah diratakan dengan tanah. Sungai Sumida mengalir dengan damai melalui distrik Hamacho dan distrik Fukawaga. Rumah-rumah grosir dan gudang-gudang memenuhi sebagian besar distrik ini. (Photo by AP Photo via The Atlantic)

Sebuah area di Tokyo, terlihat dari langit pada 5 Agustus 1955. Bangunan-bangunan modern telah menghapus bekas reruntuhan blok-blok yang telah diratakan dengan tanah. Sungai Sumida mengalir dengan damai melalui distrik Hamacho dan distrik Fukawaga. Rumah-rumah grosir dan gudang-gudang memenuhi sebagian besar distrik ini. (Photo by AP Photo via The Atlantic)

Mitsuko Kuranoto (kiri) dan Emiko Takemoto, adalah korban yang selamat dari bom atom Hiroshima yang terjadi 10 tahun sebelumnya. Dalam kesempatan ini, dia sedang berada di pangkalan Angkatan Udara Mitchel di Long Island, New York, 9 Mei 1955. Dua puluh lima orang gadis Jepang, yang terluka karena bom atom tersebut, terbang sejauh 11000 ke New York dengan harapan keajaiban operasi plastik dapat memberikan mereka wajah yang baru. (Photo by Jacob Harris/AP Photo via The Atlantic)

Mitsuko Kuranoto (kiri) dan Emiko Takemoto, adalah korban yang selamat dari bom atom Hiroshima yang terjadi 10 tahun sebelumnya. Dalam kesempatan ini, dia sedang berada di pangkalan Angkatan Udara Mitchel di Long Island, New York, 9 Mei 1955. Dua puluh lima orang gadis Jepang, yang terluka karena bom atom tersebut, terbang sejauh 11000 ke New York dengan harapan keajaiban operasi plastik dapat memberikan mereka wajah yang baru. (Photo by Jacob Harris/AP Photo via The Atlantic)

Sebuah replika raksasa dari sebuah awan jamur bom Hiroshima diarak sepanjang jalan di Tokyo, Jepang, pada 1 Mei 1957, dalam sebuah aksi memprotes rencana uji coba bom atom Inggris di Pulau Christmas. (Photo by AP Photo via The Atlantic)

Sebuah replika raksasa dari sebuah awan jamur bom Hiroshima diarak sepanjang jalan di Tokyo, Jepang, pada 1 Mei 1957, dalam sebuah aksi memprotes rencana uji coba bom atom Inggris di Pulau Christmas. (Photo by AP Photo via The Atlantic)

Dulunya musuh, sekarang menjadi sekutu. Ini benar-benar terbukti dalam sebuah latihan perang oleh pasukan relawan Jepang di Sekolah Angkatan Darat Fuji di luar Tokyo, pada 15 Mei 1957. Dipersenjatai oleh senjata yang dibuat oleh Amerika dan didukung oleh tank yang disuplai oleh Amerika, para tentara ini adalah bagian dari 160.000 pasukan darat, laut dan udara yang sedang berada dalam pelatihan intensif untuk keperluan bela diri Jepang. (Photo by George Sweers/AP Photo via The Atlantic)

Dulunya musuh, sekarang menjadi sekutu. Ini benar-benar terbukti dalam sebuah latihan perang oleh pasukan relawan Jepang di Sekolah Angkatan Darat Fuji di luar Tokyo, pada 15 Mei 1957. Dipersenjatai oleh senjata yang dibuat oleh Amerika dan didukung oleh tank yang disuplai oleh Amerika, para tentara ini adalah bagian dari 160.000 pasukan darat, laut dan udara yang sedang berada dalam pelatihan intensif untuk keperluan bela diri Jepang. (Photo by George Sweers/AP Photo via The Atlantic)

 

Para anak-anak Jepang ini dengan antusias melihat pameran luar angkasa di sebuah department store di Tokyo, pada 19 Agustus 1958. Mereka melihat sebuah roket yang mendarat di permukaan bulan, makhluk-makhluk aneh, bahkan satelit yang mengitari bulan. n, strange looking people of the moon walking around, and even a satellite going around the moon. (Photo by AP Photo via The Atlantic)

Para anak-anak Jepang ini dengan antusias melihat pameran luar angkasa di sebuah department store di Tokyo, pada 19 Agustus 1958. Mereka melihat sebuah roket yang mendarat di permukaan bulan, makhluk-makhluk aneh, bahkan satelit yang mengitari bulan. n, strange looking people of the moon walking around, and even a satellite going around the moon. (Photo by AP Photo via The Atlantic)

Para penari Jepang dari grup tari Shochiku berlatih salah satu dari gerakan dalam "natsu no odori", adegan tarian musim panas yang akan mereka pentaskan di Kokusai Theater di Tokyo pada 11 Juli 1958. (Photo by Mitsunori Chigita/AP Photo via The Atlantic)

Para penari Jepang dari grup tari Shochiku berlatih salah satu dari gerakan dalam “natsu no odori”, adegan tarian musim panas yang akan mereka pentaskan di Kokusai Theater di Tokyo pada 11 Juli 1958. (Photo by Mitsunori Chigita/AP Photo via The Atlantic)

Interior dari sebuah department store di Tokyo pada 1959, dimana seorang pria Jepang mengenakan Geta, sandal kayu tradisional, sedang melihat foto Abraham Lincoln digantung bersama dua poster lain tentang kehidupan Lincoln. (Photo by Library of Congress via The Atlantic)

Interior dari sebuah department store di Tokyo pada 1959, dimana seorang pria Jepang mengenakan Geta, sandal kayu tradisional, sedang melihat foto Abraham Lincoln digantung bersama dua poster lain tentang kehidupan Lincoln. (Photo by Library of Congress via The Atlantic)

Tooru Ohira, pengisi suara "Superman" dalam bahasa Jepang. Menonton sang aktor George Reeves secara seksama selagi dia mengisi suara untuk acara tersebut, pada 7 Juli 1959. Semua orang Jepang terkesan dengan televisi, tidak terkecuali sang Kaisar. Sekitar 99 persen acara di TV Jepang pada masa itu adalah dari Amerika, termasuk "Superman" yang merupakan acara favorit sang Kaisar Jepang. (Photo by AP Photo via The Atlantic)

Tooru Ohira, pengisi suara “Superman” dalam bahasa Jepang. Menonton sang aktor George Reeves secara seksama selagi dia mengisi suara untuk acara tersebut, pada 7 Juli 1959. Semua orang Jepang terkesan dengan televisi, tidak terkecuali sang Kaisar. Sekitar 99 persen acara di TV Jepang pada masa itu adalah dari Amerika, termasuk “Superman” yang merupakan acara favorit sang Kaisar Jepang. (Photo by AP Photo via The Atlantic)

Micky Curtis, seorang penyanyi bergaya mirip Elvis Presley, memainkan gitarnya dan menyanyi, selagi para gadis pemujanya berusaha meraihnya, di Nichigeki Theater di Tokyo pada 18 Februari 1958. Jepang saat itu dilanda demam "Rock'n Roll" sehingga musik barat pun merajai tangga lagu Jepang. (Photo by AP Photo via The Atlantic)

Micky Curtis, seorang penyanyi bergaya mirip Elvis Presley, memainkan gitarnya dan menyanyi, selagi para gadis pemujanya berusaha meraihnya, di Nichigeki Theater di Tokyo pada 18 Februari 1958. Jepang saat itu dilanda demam “Rock’n Roll” sehingga musik barat pun merajai tangga lagu Jepang. (Photo by AP Photo via The Atlantic)

Para mahasiswa yang bekerja sebagai "petugas pendorong" mendesakkan para penumpang ke dalam kereta komuter di Tokyo. (Photo by Library of Congress via The Atlantic)

Para mahasiswa yang bekerja sebagai “petugas pendorong” mendesakkan para penumpang ke dalam kereta komuter di Tokyo. (Photo by Library of Congress via The Atlantic)

Tomiko Kawabata duduk di dalam mobilnya mengagumi televisi transistor terbarunya yang portabel, yang diproduksi secara masal oleh Sony, di Tokyo, 5 Januari 1960. Televisi yang memiliki layar delapan inchi ini dilengkapi baterai yang sanggup bertahan tiga jam ketika digunakan diluar ruangan, dan juga bisa beroperasi tanpa baterai dengan menggunakan listrik 200 V dalam ruangan. (Photo by AP Photo via The Atlantic) 

Tomiko Kawabata duduk di dalam mobilnya mengagumi televisi transistor terbarunya yang portabel, yang diproduksi secara masal oleh Sony, di Tokyo, 5 Januari 1960. Televisi yang memiliki layar delapan inchi ini dilengkapi baterai yang sanggup bertahan tiga jam ketika digunakan diluar ruangan, dan juga bisa beroperasi tanpa baterai dengan menggunakan listrik 200 V dalam ruangan. (Photo by AP Photo via The Atlantic)

Ruang makan di sebuah panti asuhan di Osaka, Jepang, pada 19 Februari 1951, dimana 160 orang anak yatim piatu diberi makan setiap hari yang dibiayai oleh the Wolfhounds, resimen infanteri ke-27 dari angkatan darat Amerika Serikat. (Photo by Jim Pringle/AP Photo via The Atlantic)

Ruang makan di sebuah panti asuhan di Osaka, Jepang, pada 19 Februari 1951, dimana 160 orang anak yatim piatu diberi makan setiap hari yang dibiayai oleh the Wolfhounds, resimen infanteri ke-27 dari angkatan darat Amerika Serikat. (Photo by Jim Pringle/AP Photo via The Atlantic)

 

Para ahli pelatihan industri mengawasi sebuah mesin bola lampu menjatuhkan bohlam pada pekerja lain yang menyortirnya berdasarkan cacat atau kerusakan bohlam tersebut, di Tokyo Shibaura Electric Co. , kota Tokyo, 25 Januari 1951. (Photo by Arthur Curlis/AP Photo/U.S. Army via The Atlantic)

Para ahli pelatihan industri mengawasi sebuah mesin bola lampu menjatuhkan bohlam pada pekerja lain yang menyortirnya berdasarkan cacat atau kerusakan bohlam tersebut, di Tokyo Shibaura Electric Co. , kota Tokyo, 25 Januari 1951. (Photo by Arthur Curlis/AP Photo/U.S. Army via The Atlantic)

Pada 3 Agustus 1951, yaitu enam tahun setelah bom atom dijatuhkan tepat di atas titik ini di Hiroshima, sebuah kios cenderamata berdiri di jalan dekat kubah Balai Industri yang hancur. Kios ini dioperasikan oleh Kiyoshi Yoshikawa, yang juga terluka dalam peristiwa pengeboman tersebut. (Photo by AP Photo/Kyodo via The Atlantic)

Pada 3 Agustus 1951, yaitu enam tahun setelah bom atom dijatuhkan tepat di atas titik ini di Hiroshima, sebuah kios cenderamata berdiri di jalan dekat kubah Balai Industri yang hancur. Kios ini dioperasikan oleh Kiyoshi Yoshikawa, yang juga terluka dalam peristiwa pengeboman tersebut. (Photo by AP Photo/Kyodo via The Atlantic)

Para penumpang di sebuah kereta api dari Tokyo menuju Osaka tampak mengikuti senam selama tiga menit di bawah bimbingan seorang instruktur, dalam sebuah persinggahan selama lima menit di Hamamatsu, 27 Agustus 1952. Layanan yang tidak biasa ini diadakan untuk membantu para penumpang dalam perjalanan jauh untuk melemaskan otot-otot mereka di stasiun yang merupakan setengah perjalanan diantara Tokyo dan Osaka. Dalam senam ini, disediakan musik untuk senam, dan bahkan sebuah panggung untuk sang instruktur. (Photo by Max Desfor/AP Photo via The Atlantic)

Para penumpang di sebuah kereta api dari Tokyo menuju Osaka tampak mengikuti senam selama tiga menit di bawah bimbingan seorang instruktur, dalam sebuah persinggahan selama lima menit di Hamamatsu, 27 Agustus 1952. Layanan yang tidak biasa ini diadakan untuk membantu para penumpang dalam perjalanan jauh untuk melemaskan otot-otot mereka di stasiun yang merupakan setengah perjalanan diantara Tokyo dan Osaka. Dalam senam ini, disediakan musik untuk senam, dan bahkan sebuah panggung untuk sang instruktur. (Photo by Max Desfor/AP Photo via The Atlantic)

 

Sebuah lensa sedang diperiksa di pabrik kamera Nikon di Tokyo, 5 Januari 1952. (Photo by Bob Schutz/AP Photo via The Atlantic)

Sebuah lensa sedang diperiksa di pabrik kamera Nikon di Tokyo, 5 Januari 1952. (Photo by Bob Schutz/AP Photo via The Atlantic)

Para demonstran pro-komunis melempari polisi Jepang dengan batu pada kerusuhan "May Day" di Tokyo pada 1 Mei 1952. Korban berjatuhan dari kedua pihak, polisi Jepang menggunakan gas air mata, senapan, dan pentungan untuk memukul mundur para perusuh. (Photo by Max Desfor/AP Photo via The Atlantic)

Para demonstran pro-komunis melempari polisi Jepang dengan batu pada kerusuhan “May Day” di Tokyo pada 1 Mei 1952. Korban berjatuhan dari kedua pihak, polisi Jepang menggunakan gas air mata, senapan, dan pentungan untuk memukul mundur para perusuh. (Photo by Max Desfor/AP Photo via The Atlantic)

Seorang pemuda Jepang yang terluka, dituntun keluar oleh anggota kepolisian dari tempat kerusuhan setelah para demonstran pro-komunis dibubarkan dekat istana kekaisaran di Tokyo, pada 1 Mei 1952. (Photo by AP Photo via The Atlantic)

Seorang pemuda Jepang yang terluka, dituntun keluar oleh anggota kepolisian dari tempat kerusuhan setelah para demonstran pro-komunis dibubarkan dekat istana kekaisaran di Tokyo, pada 1 Mei 1952. (Photo by AP Photo via The Atlantic)

Anak-anak dari keluarga Jepang yang dipulangkan ke negaranya ini bersenang-senang dengan sepedanya di atas dek Kapal Koan Maru selagi orangtua mereka bersiap untuk turun dari kapal di Teluk Maizuru, Jepang, 24 Maret 1953. Kelompok pertama yang dipulangkan dari China dimana mereka terdampar sejak akhir perang dunia kedua ini telah melengkapi formalitas di pusat pemrosesan di Maizuru dan diperbolehkan pulang ke rumah. Gelombang pertama ini terdiri dari 2000 orang pria, wanita dan anak-anak yang datang dari China Utara menaiki kapal Koan Maru ini. Sepeda yang mereka naiki adalah pemberian dari beberapa organisasi amal dan ditempatkan di atas kapal ketika kapal ini meninggalkan China. (Photo by Y. Jackson Ishizaki/AP Photo via The Atlantic)

Anak-anak dari keluarga Jepang yang dipulangkan ke negaranya ini bersenang-senang dengan sepedanya di atas dek Kapal Koan Maru selagi orangtua mereka bersiap untuk turun dari kapal di Teluk Maizuru, Jepang, 24 Maret 1953. Kelompok pertama yang dipulangkan dari China dimana mereka terdampar sejak akhir perang dunia kedua ini telah melengkapi formalitas di pusat pemrosesan di Maizuru dan diperbolehkan pulang ke rumah. Gelombang pertama ini terdiri dari 2000 orang pria, wanita dan anak-anak yang datang dari China Utara menaiki kapal Koan Maru ini. Sepeda yang mereka naiki adalah pemberian dari beberapa organisasi amal dan ditempatkan di atas kapal ketika kapal ini meninggalkan China. (Photo by Y. Jackson Ishizaki/AP Photo via The Atlantic)

Seorang pekerja studio film mengerjakan salah satu model kapal perang yang digunakan dalam sebuah adegan pertempuran di sebuah film dokumenter Jepang yang menceritakan kisah hari terakhir kapal perang Yamato, 8 Juni 1953. (Photo by Yuichi Ishizaki/AP Photo via The Atlantic)

Seorang pekerja studio film mengerjakan salah satu model kapal perang yang digunakan dalam sebuah adegan pertempuran di sebuah film dokumenter Jepang yang menceritakan kisah hari terakhir kapal perang Yamato, 8 Juni 1953. (Photo by Yuichi Ishizaki/AP Photo via The Atlantic)

Ini Jepang di Tahun 1950-an, Momen Kebangkitan Pasca Bom Atom Hiroshima


Sebuah adegan dari “Battleship Yamato” sedang diambil di kolam studio Perusahaan Film Shin-Toho pada 8 Juni 1953. Layar yang dijadikan latar belakang pemandangan langit terlihat membentang di kiri hingga kanan, dan kru kamera berada di depan. (Photo by Yuichi Ishizaki/AP Photo via The Atlantic)

Ini Jepang di Tahun 1950-an, Momen Kebangkitan Pasca Bom Atom Hiroshima


Para pembuat film Jepang ini bekerja dalam proyek dokumenter Battleship Yamato. Para pekerja studio tampak mengisi peluru ke dalam senapan di sebuah model kapal perang Yamato, dalam persiapan untuk adegan pamungkas pada 8 Juni 1953. (Photo by Yuichi Ishizaki/AP Photo via The Atlantic)

Comments

comments