Kalau bicara tentang kapal perang tercanggih punya Indonesia, nama KRI Bung Tomo-357, KRI John Lie-358, dan KRI Usman Harun-359 tentu sulit dilewatkan.
Tiga kapal yang dikenal sebagai Bung Tomo Class ini pernah menjadi salah satu lompatan besar modernisasi kekuatan tempur TNI Angkatan Laut. Ketika bergabung dengan armada Indonesia pada 2014, ketiganya membawa kombinasi radar, sonar, meriam, rudal antikapal, torpedo, sistem peperangan elektronika, dan kemampuan operasi multiperan yang sangat menarik.
Lebih dari satu dekade kemudian, teknologi kapal perang TNI AL tentu terus berkembang. Indonesia kini sudah menerima kapal tempur generasi yang lebih baru, termasuk KRI Brawijaya-320 dan KRI Prabu Siliwangi-321.
Namun, bukan berarti Bung Tomo Class kehilangan daya tarik.
Kapal-kapal ini masih menjadi bagian penting dari perjalanan modernisasi armada laut Indonesia. KRI Bung Tomo dan KRI John Lie bahkan masih terlihat menjalankan operasi serta latihan TNI AL pada 2025 dan 2026.
Nah, sebenarnya secanggih apa kapal perang kelas Bung Tomo? Senjata apa saja yang membuatnya ditakuti? Dan apakah pada 2026 kapal ini masih pantas disebut sebagai kapal perang tercanggih Indonesia?
Yuk, kita bahas lebih dalam.
Daftar Isi Tulisan
Apakah Bung Tomo Class Masih Menjadi Kapal Perang Tercanggih Indonesia?

Jawabannya perlu sedikit diperjelas.
Pada saat masuk armada TNI AL pada 2014, Bung Tomo Class termasuk salah satu kapal perang paling modern dan kuat yang dimiliki Indonesia. Namun, pada 2026, perkembangan alutsista TNI AL membuat gelar “kapal perang tercanggih Indonesia” tidak lagi bisa diberikan hanya kepada satu kelas kapal.
TNI AL sekarang telah menerima KRI Brawijaya-320 dan KRI Prabu Siliwangi-321, dua kapal tempur multiperan jenis PPA atau Multipurpose Combat Ship buatan Fincantieri, Italia.
KRI Brawijaya-320 memiliki panjang sekitar 143 meter, kecepatan maksimal sekitar 32 knot, sistem navigasi modern, serta Combat Management System yang mengintegrasikan sensor, senjata, komunikasi, dan navigasi melalui jaringan data kapal.
KRI Prabu Siliwangi-321 merupakan kapal saudara dari KRI Brawijaya. Keduanya menjadi tambahan penting dalam modernisasi kekuatan laut Indonesia.
Jadi, lebih tepat jika Bung Tomo Class disebut sebagai salah satu kelas kapal perang canggih dan penting milik Indonesia, bukan satu-satunya kapal perang tercanggih pada 2026.
Perkembangan teknologi militer memang berlangsung cepat. Hal serupa bisa dilihat pada dunia penerbangan, mulai dari helikopter militer tercepat di dunia hingga teknologi pesawat khusus seperti yang dibahas dalam perbandingan pesawat kepresidenan RI-1 dan Air Force One.
Mengenal Bung Tomo Class Milik TNI Angkatan Laut

Bung Tomo Class terdiri dari tiga kapal perang:
- KRI Bung Tomo-357
- KRI John Lie-358
- KRI Usman Harun-359
TNI AL mengenalkan kelas ini sebagai Multi Role Light Frigate atau MRLF. Dalam berbagai publikasi internasional, desainnya juga sering dikategorikan sebagai korvet kelas Bung Tomo atau turunan desain F2000.
Perbedaan istilah fregat ringan dan korvet memang bisa membingungkan karena klasifikasi kapal perang tidak selalu seragam antara satu negara dengan negara lainnya.
Yang lebih penting adalah kemampuannya.
Bung Tomo Class dirancang sebagai kapal kombatan multiperan yang mampu menghadapi ancaman di permukaan laut, bawah permukaan, dan udara.
Awalnya Dibangun untuk Brunei Darussalam
Menariknya, ketiga kapal ini awalnya bukan dibangun untuk Indonesia.
Kapal-kapal tersebut merupakan desain F2000 yang dibuat di Inggris dan sebelumnya dipesan oleh Pemerintah Brunei Darussalam.
Namun, kapal-kapal tersebut tidak akhirnya masuk dinas Angkatan Laut Brunei. Setelah melalui perjalanan yang cukup panjang, Indonesia kemudian mengakuisisi ketiganya dan memasukkannya ke dalam kekuatan TNI AL pada 2014.
Di tangan Indonesia, ketiga kapal mendapatkan identitas baru melalui nama para tokoh dan pahlawan yang mempunyai tempat penting dalam sejarah nasional.
Tiga Kapal Perang dalam Bung Tomo Class

1. KRI Bung Tomo-357
Kapal pertama sekaligus nama kelasnya adalah KRI Bung Tomo-357.
Nama Bung Tomo diambil dari Sutomo, tokoh yang dikenal melalui perannya membangkitkan semangat rakyat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan, khususnya dalam sejarah Pertempuran Surabaya.
Nama tersebut terasa sangat cocok untuk sebuah kapal perang.
Bung Tomo identik dengan semangat perlawanan, keberanian, dan Kota Surabaya yang juga mempunyai hubungan sangat erat dengan sejarah TNI Angkatan Laut.
Buat kamu yang berkunjung ke Kota Pahlawan, salah satu tempat yang mempunyai nuansa maritim dan TNI AL adalah Monumen Jalesveva Jayamahe. Lokasinya termasuk dalam daftar spot foto menarik di Surabaya yang bisa dikunjungi ketika akses kawasan memungkinkan.
KRI Bung Tomo-357 sendiri masih terlihat aktif dalam tugas operasional. Pada November 2025, TNI AL melaporkan kapal ini menjalankan Operasi Laut Natuna Utara dan terlibat dalam penanganan sebuah kapal asing yang diduga bermasalah dengan dokumennya.
2. KRI John Lie-358
Kapal kedua adalah KRI John Lie-358.
Nama John Lie diambil dari Laksamana Muda TNI (Purn.) John Lie, salah satu tokoh penting dalam sejarah Angkatan Laut Indonesia.
Nama pahlawan sebagai identitas kapal perang bukan hanya berfungsi sebagai penanda. Nama tersebut juga membawa simbol sejarah dan semangat yang diharapkan terus hidup bersama kapal serta para prajurit yang mengawakinya.
KRI John Lie-358 masih aktif menjalankan tugas TNI AL pada 2026. Pada Juni 2026, kapal ini melaksanakan patroli sektor di Laut Natuna Utara.
Sebelumnya, pada Februari 2026, KRI John Lie juga termasuk unsur kapal perang yang terlibat dalam latihan Anti Akses dan Anti Amfibi TNI AL bersama sejumlah KRI lainnya.
Wilayah laut memang mempunyai arti strategis bagi Indonesia. Sejak zaman kolonial hingga sekarang, pelabuhan dan jalur laut berperan besar dalam sejarah negara. Salah satu jejak perkembangan transportasi laut dan darat tersebut bisa dilihat melalui sejarah Stasiun Tanjung Priok yang sejak awal mempunyai hubungan erat dengan kawasan pelabuhan Jakarta.
3. KRI Usman Harun-359
Kapal ketiga adalah KRI Usman Harun-359.
Nama kapal diambil dari Usman Janatin dan Harun Thohir, dua anggota KKO yang sekarang dikenal sebagai Korps Marinir.
KRI Usman Harun mempunyai rekam penugasan yang menarik, termasuk operasi keamanan laut dan misi internasional.
Kapal ini juga pernah dikerahkan dalam misi Maritime Task Force UNIFIL di Lebanon.
Selain itu, program modernisasi KRI Usman Harun pernah diumumkan oleh PT Len Industri dengan melibatkan kerja sama bersama Thales. Modernisasi kapal perang penting karena usia lambung kapal bukan satu-satunya faktor penentu kemampuan tempur. Sistem sensor, komunikasi, radar, sistem kendali tempur, dan perangkat elektronik juga mempunyai pengaruh sangat besar.
Peperangan modern memang tidak selalu seperti yang digambarkan dalam film-film perang terbaik. Dalam pertempuran laut modern, siapa yang lebih dahulu mendeteksi, mengidentifikasi, berbagi informasi, dan merespons ancaman bisa menjadi faktor yang sangat menentukan.
Spesifikasi Umum Bung Tomo Class

Berikut gambaran spesifikasi kelas Bung Tomo berdasarkan konfigurasi yang didokumentasikan TNI AL ketika kapal ini masuk memperkuat armada Indonesia.
Spesifikasi |
Keterangan |
|---|---|
Jenis |
Multi Role Light Frigate / kapal kombatan multiperan |
Desain |
F2000 |
Bobot |
Sekitar 1.940 ton |
Panjang |
Sekitar 89–89,9 meter |
Lebar |
Sekitar 12,8 meter |
Kecepatan maksimum |
Sekitar 30 knot lebih |
Jumlah kapal |
3 unit |
Peran utama |
Peperangan antikapal permukaan, antikapal selam, pertahanan udara, dan peperangan elektronika |
Fasilitas penerbangan |
Dek penerbangan untuk mendukung operasi helikopter sesuai kebutuhan misi |
Dengan panjang yang tidak sampai 100 meter, kapal ini memang jauh lebih kecil dibandingkan kapal tempur baru seperti KRI Brawijaya-320 yang mempunyai panjang sekitar 143 meter.
Namun, ukuran bukan satu-satunya ukuran kecanggihan.
Kapal perang harus dilihat sebagai sebuah sistem yang menggabungkan:
- sensor;
- radar;
- sonar;
- senjata;
- komunikasi;
- sistem kendali tempur;
- peperangan elektronika;
- kemampuan awak kapal.
Inilah yang membuat Bung Tomo Class menarik. Kapal tersebut dirancang untuk menjalankan lebih dari satu jenis peperangan.

Apa yang Membuat Bung Tomo Class Canggih?
1. Dirancang untuk Banyak Jenis Peperangan
Istilah Multi Role bukan sekadar nama keren.
Bung Tomo Class dirancang untuk menangani beberapa jenis ancaman.
Peperangan antikapal permukaan
Kapal harus mampu mendeteksi dan menghadapi kapal lawan di permukaan laut.
Peperangan antikapal selam
Kapal mempunyai sistem untuk mendeteksi ancaman yang bersembunyi di bawah permukaan laut.
Pertahanan terhadap ancaman udara
Ancaman bagi kapal perang tidak hanya datang dari kapal lain. Pesawat, helikopter, dan rudal juga harus diperhitungkan.
Peperangan elektronika
Dalam peperangan modern, gelombang elektromagnetik, radar, sensor, dan sistem komunikasi mempunyai peran yang sangat besar.
Jadi, sebuah kapal perang modern bukan sekadar kapal yang dipasangi meriam besar.
Ia adalah platform tempur bergerak yang harus mampu melihat, mendengar, mengolah informasi, berkomunikasi, dan merespons ancaman dari berbagai arah.
2. Radar dan Sensor Menjadi “Mata” Kapal
Salah satu kekuatan kapal perang modern terletak pada sensornya.
Berdasarkan dokumentasi TNI AL ketika Bung Tomo Class masuk armada, kapal ini menggunakan sejumlah sistem sensor untuk mendukung pendeteksian sasaran di permukaan maupun udara.
Salah satunya adalah radar BAE Systems Insyte AWS-9 3D.
Sistem ini didukung perangkat lain untuk membantu penjejakan sasaran dan pengendalian senjata.
Gampangnya begini.
Meriam atau rudal yang canggih tidak akan bekerja maksimal jika kapal tidak mempunyai informasi sasaran yang memadai.
Karena itu, sensor dan sistem kendali tempur sama pentingnya dengan senjata yang terlihat secara fisik di atas geladak.
Prinsip penggunaan radar bukan hanya ditemukan pada kapal perang. Dalam dunia penerbangan, teknologi radar juga digunakan untuk berbagai kebutuhan, termasuk mendeteksi potensi bahaya. Kamu bisa membaca contoh lain melalui pembahasan tentang bahaya bird strike bagi pesawat.

3. Punya Sonar untuk Mendeteksi Ancaman Bawah Air
Permukaan laut mungkin terlihat tenang.
Tapi ancaman bisa datang dari bawah.
Inilah sebabnya peperangan antikapal selam menjadi salah satu kemampuan penting kapal kombatan.
Dalam konfigurasi yang didokumentasikan TNI AL, Bung Tomo Class menggunakan Thales Underwater Systems TMS 4130C1 sebagai sistem sonar untuk mendukung pendeteksian sasaran bawah air.
Kalau radar menjadi salah satu “mata” untuk melihat ancaman di udara dan permukaan, sonar mempunyai peran penting untuk mendeteksi objek di bawah air.
Indonesia sendiri mempunyai sejarah panjang dengan kapal selam. Jejak dunia bawah laut ini bahkan bisa ditemui masyarakat umum di Surabaya melalui keberadaan Monumen Kapal Selam yang berada tidak jauh dari kawasan pusat kota dan sejumlah pusat perbelanjaan besar di Surabaya.
4. Mempunyai Kemampuan Peperangan Elektronika
Kapal perang modern harus mampu menghadapi ancaman yang tidak selalu terlihat dengan mata.
Radar lawan, sistem pencari sasaran, dan berbagai sinyal elektronik menjadi bagian penting dari lingkungan peperangan modern.
Karena itu, Bung Tomo Class dilengkapi sistem untuk mendukung peperangan elektronika dan perlindungan kapal.
Dokumentasi TNI AL ketika kapal masuk armada menyebut perangkat seperti Thales Sensors Cutlass 242 serta sistem chaff atau decoy.
Tujuannya bukan sekadar “menembak balik”, tetapi juga meningkatkan kemampuan kapal untuk mendeteksi atau menghadapi ancaman elektronik dan senjata lawan.
Persenjataan Bung Tomo Class
Nah, sekarang masuk ke bagian yang biasanya paling bikin penasaran.
Apa saja senjata yang dibawa Bung Tomo Class?
Perlu dicatat, konfigurasi kapal perang dapat berubah melalui pemeliharaan, penggantian sistem, dan program modernisasi. Karena itu, daftar berikut menggambarkan sistem utama yang terdokumentasi pada konfigurasi kelas ini ketika memperkuat TNI AL.
1. Meriam Utama OTO Melara 76 mm

Di bagian haluan terdapat meriam kapal kaliber 76 mm.
Meriam jenis ini merupakan senjata yang sangat fleksibel untuk sebuah kapal perang.
Fungsinya dapat mencakup penembakan terhadap sasaran permukaan dan berbagai kebutuhan pertahanan sesuai sistem serta amunisi yang digunakan.
Keunggulan meriam kapal modern bukan hanya ukuran proyektilnya.
Kecepatan tembak, sistem stabilisasi, pengendalian tembakan, dan integrasi dengan sensor kapal merupakan bagian penting dari efektivitas senjata.
2. Rudal Antikapal Exocet MM40 Block II

Salah satu senjata paling terkenal yang dikaitkan dengan Bung Tomo Class adalah Exocet MM40 Block II.
Exocet merupakan keluarga rudal antikapal yang dikembangkan untuk menyerang sasaran permukaan.
Senjata seperti ini memberikan kapal kemampuan menyerang dari jarak yang jauh lebih besar dibandingkan hanya mengandalkan meriam.
Namun, rudal tidak berdiri sendiri.
Agar serangan efektif, kapal membutuhkan informasi sasaran, sensor, sistem kendali tempur, serta koordinasi operasional yang baik.

Kenapa rudal antikapal penting?
Kapal perang modern tidak harus mendekat sampai jarak pandang untuk menghadapi kapal lawan.
Dengan senjata berpemandu, pertempuran dapat berlangsung pada jarak yang jauh.
Inilah salah satu alasan kapal perang modern dipenuhi radar, antena, sensor, dan perangkat komunikasi.
3. Dua Kanon DS 30B Kaliber 30 mm
Selain meriam utama, Bung Tomo Class juga dilengkapi kanon DS 30B kaliber 30 mm.
Dalam konfigurasi kelas ini, kanon ditempatkan pada sisi kapal untuk memberikan kemampuan pertahanan tambahan.
Senjata seperti ini dapat digunakan menghadapi sasaran permukaan dan ancaman jarak lebih dekat sesuai kebutuhan operasi.
Jadi, pertahanan kapal dibuat berlapis.
Tidak semua ancaman harus dihadapi dengan rudal mahal.
4. Torpedo 324 mm untuk Peperangan Antikapal Selam

Ancaman dari kapal selam membutuhkan senjata khusus.
Bung Tomo Class dibekali kemampuan torpedo kaliber 324 mm untuk mendukung peperangan antikapal selam.
Kombinasi sonar dan torpedo memberikan kemampuan untuk mendeteksi sekaligus menghadapi target di bawah permukaan.
Ini yang membedakan kapal kombatan multiperan dengan kapal yang hanya dirancang untuk patroli sederhana.
5. Sistem Pertahanan Udara
Bagian ini perlu dibahas dengan hati-hati karena konfigurasi persenjataan kapal perang dapat berubah.
Desain awal kapal berkaitan dengan sistem rudal pertahanan udara Sea Wolf. Dokumentasi TNI AL ketika kelas ini masuk armada juga membahas transisi sistem pertahanan udara setelah kapal diakuisisi Indonesia.
Namun, karena detail konfigurasi operasional terkini tidak selalu dipublikasikan secara lengkap, lebih aman untuk tidak menganggap daftar persenjataan yang beredar di internet sebagai gambaran pasti kondisi setiap kapal pada 2026.
Yang jelas, sejak awal kemampuan menghadapi ancaman udara merupakan salah satu unsur penting dalam konsep tempur Bung Tomo Class.

Combat Management System: Otak di Balik Kapal Perang Modern
Kalau meriam, rudal, radar, dan sonar adalah bagian tubuh sebuah kapal perang, maka Combat Management System atau CMS bisa diibaratkan sebagai salah satu pusat pengolah informasi tempurnya.
Di ruang informasi tempur, data dari berbagai sensor dikumpulkan dan dianalisis agar awak kapal dapat membangun gambaran situasi di sekitar kapal.
Informasi tersebut dapat meliputi:
- kontak kapal permukaan;
- sasaran udara;
- potensi ancaman bawah air;
- data navigasi;
- informasi dari unsur lain;
- status sistem dan persenjataan kapal.
Inilah alasan kecanggihan kapal perang tidak bisa hanya dinilai dari “berapa banyak rudalnya”.
Kapal dengan senjata kuat tetapi kemampuan deteksi dan pengolahan informasinya buruk akan menghadapi masalah besar.
Sebaliknya, sistem yang terintegrasi membantu awak kapal memahami situasi dan mengambil keputusan dengan lebih baik.

Dek Helikopter Menambah Fleksibilitas Operasi
Bung Tomo Class juga mempunyai dek penerbangan di bagian buritan.
Kehadiran helikopter dapat memperluas kemampuan sebuah kapal perang, tergantung jenis helikopter, perlengkapan, dan misi yang dijalankan.
Helikopter angkatan laut bisa digunakan untuk berbagai kebutuhan, seperti:
- pengawasan;
- pencarian dan penyelamatan;
- transportasi personel;
- dukungan peperangan antikapal selam;
- pengamatan area yang lebih jauh dari kapal.
Kombinasi kapal perang dan helikopter menunjukkan bahwa operasi laut modern melibatkan banyak platform yang bekerja bersama, bukan satu kapal yang bertempur sendirian.
Kalau tertarik dengan teknologi helikopter tempur dan militer, kamu juga bisa melihat daftar helikopter militer paling cepat di dunia.

Bung Tomo Class Tidak Hanya Digunakan untuk Perang
Namanya memang kapal perang, tetapi kehidupan operasional sebuah KRI tidak selalu berisi pertempuran.
Kapal TNI AL juga digunakan dalam:
- patroli keamanan laut;
- latihan bersama;
- diplomasi maritim;
- pengamanan wilayah;
- penegakan hukum di laut;
- misi internasional;
- operasi militer selain perang.
KRI Bung Tomo-357, misalnya, masih menjalankan operasi di kawasan Laut Natuna Utara pada 2025.
KRI John Lie-358 juga terlihat aktif dalam latihan dan patroli pada 2026.
Sementara KRI Usman Harun mempunyai sejarah penugasan hingga ke misi perdamaian internasional.
Ini memperlihatkan bahwa nilai sebuah kapal perang bukan hanya ketika senjatanya ditembakkan.
Kehadiran kapal di wilayah operasi sendiri sudah mempunyai fungsi pengawasan, keamanan, diplomasi, dan menunjukkan kehadiran negara di laut.

Kenapa Indonesia Membutuhkan Kapal Perang Multiperan?
Indonesia merupakan negara kepulauan dengan wilayah perairan yang sangat luas dan jalur pelayaran yang penting.
Kondisi geografis seperti ini membuat kapal perang harus mampu menjalankan banyak jenis tugas.
Mengawasi wilayah laut
Kapal dapat digunakan untuk patroli dan menjaga kehadiran negara di berbagai wilayah perairan.
Menghadapi berbagai jenis ancaman
Ancaman di laut dapat berasal dari kapal permukaan, bawah air, udara, maupun aktivitas ilegal.
Mendukung diplomasi
Kunjungan kapal perang dan latihan bersama menjadi bagian dari hubungan antarangkatan laut.
Menjalankan misi internasional
Kapal TNI AL juga dapat menjalankan tugas di luar negeri dan berpartisipasi dalam kerja sama keamanan internasional.
Hubungan Indonesia dengan laut sendiri jauh lebih tua dibandingkan teknologi kapal perang modern. Kapal tradisional seperti pinisi merupakan bagian dari sejarah maritim Nusantara. Bahkan bentuk kapal tersebut menjadi inspirasi desain JPO Pinisi Sudirman di Jakarta.
Di wilayah seperti Maluku, ketergantungan terhadap transportasi laut juga masih terasa sampai sekarang. Beberapa tempat wisata tersembunyi di Maluku, misalnya, hanya dapat dijangkau dengan perjalanan antarpulau.

Apakah Bung Tomo Class Sudah Ketinggalan Zaman?
Tidak sesederhana itu.
Usia sebuah kapal perang memang penting, tetapi bukan satu-satunya faktor.
Kapal dapat menjalani:
- pemeliharaan besar;
- penggantian radar;
- modernisasi komunikasi;
- pembaruan sistem kendali tempur;
- penggantian sensor;
- integrasi persenjataan baru;
- perbaikan mesin dan sistem platform.
Itulah sebabnya banyak angkatan laut dunia tetap mengoperasikan kapal yang lambungnya sudah berusia puluhan tahun setelah melalui modernisasi.
Program peningkatan kemampuan KRI Usman Harun yang pernah diumumkan PT Len Industri menjadi contoh bahwa modernisasi sistem dapat menjadi bagian penting dalam mempertahankan relevansi sebuah kapal.
Namun, modernisasi tetap mempunyai batas.
Desain kapal yang lebih baru biasanya menawarkan ruang, kapasitas listrik, arsitektur sistem, otomatisasi, dan peluang pengembangan yang lebih sesuai untuk teknologi generasi baru.
Karena itu, kehadiran kapal baru seperti KRI Brawijaya-320 dan KRI Prabu Siliwangi-321 tetap menjadi langkah penting untuk melengkapi kapal-kapal yang sudah lebih dahulu memperkuat TNI AL.

KRI Brawijaya dan Prabu Siliwangi Membuka Babak Baru
Pada 2025, TNI AL menerima KRI Brawijaya-320, kapal jenis PPA atau Multipurpose Combat Ship produksi Fincantieri, Italia.
Kapal ini mempunyai panjang sekitar 143 meter dan kecepatan maksimal sekitar 32 knot.
TNI AL menjelaskan bahwa KRI Brawijaya dilengkapi sistem navigasi modern serta Combat System terintegrasi yang menghubungkan CMS, sensor, senjata, komunikasi, dan sistem navigasi.
Kapal saudaranya, KRI Prabu Siliwangi-321, juga telah diserahkan dan menjalani rangkaian pengujian serta pelayaran menuju Indonesia.
Pada Januari 2026, TNI AL bahkan melaporkan uji penembakan meriam 76 mm dan meriam 127 mm KRI Prabu Siliwangi sebagai bagian dari pengujian kesiapan sistem kapal.
Jadi, pada 2026, pertanyaan “apa kapal perang tercanggih Indonesia?” mempunyai jawaban yang lebih kompleks.
Bung Tomo Class tetap merupakan kapal perang canggih dan penting.
Namun, generasi baru armada TNI AL kini hadir dengan ukuran lebih besar dan teknologi yang lebih modern.
Bung Tomo Class vs Kapal Perang Generasi Baru
Aspek |
Bung Tomo Class |
PPA KRI Brawijaya / Prabu Siliwangi |
|---|---|---|
Era bergabung dengan TNI AL |
2014 |
2025–2026 |
Panjang |
Sekitar 89 meter |
Sekitar 143 meter |
Kecepatan |
Sekitar 30 knot lebih |
Lebih dari 31 knot |
Konsep |
Multi Role Light Frigate |
Multipurpose Combat Ship / PPA |
Peran |
Multiperan |
Multimisi dengan arsitektur sistem generasi lebih baru |
Perbandingan ini bukan berarti kapal baru otomatis menggantikan seluruh fungsi kapal lama.
Dalam sebuah armada, setiap kelas kapal dapat mempunyai tugas, tingkat kesiapan, dan penempatan yang berbeda.
Kapal besar tidak selalu harus digunakan untuk setiap operasi.
Armada yang kuat justru membutuhkan kombinasi berbagai jenis kapal sesuai kebutuhan.
Kenapa Kapal Perang Sering Menggunakan Nama Pahlawan?
KRI Bung Tomo, KRI John Lie, dan KRI Usman Harun mempunyai satu kesamaan: nama mereka diambil dari tokoh yang berkaitan dengan sejarah Indonesia.
Tradisi penamaan seperti ini membuat kapal tidak hanya mempunyai nomor lambung.
Ada nilai sejarah dan identitas yang dibawa bersama nama tersebut.
Ketika KRI Bung Tomo berlayar, nama seorang tokoh perjuangan ikut dibawa ke berbagai perairan.
Hal ini sekaligus menjadi pengingat bahwa teknologi militer modern tetap mempunyai hubungan dengan perjalanan sejarah bangsa.
Buat kamu yang tertarik dengan sisi lain sejarah konflik, baca juga sisi kemanusiaan yang muncul di tengah peperangan.
Perang memang sering menjadi pendorong perkembangan teknologi, tetapi dampaknya terhadap manusia tetap sangat besar. Koleksi foto Afghanistan sebelum perang memperlihatkan bagaimana sebuah negara bisa berubah akibat konflik berkepanjangan.
Hal serupa terlihat dari kebangkitan Jepang pada 1950-an setelah kehancuran Perang Dunia II.

Bisakah Masyarakat Melihat Kapal Perang TNI AL?
Pada kondisi normal, kapal perang aktif tentu tidak bisa dikunjungi sembarangan.
Namun, TNI AL terkadang mengadakan kegiatan seperti:
- pameran alutsista;
- Naval Base Open Day;
- kunjungan kapal;
- perayaan tertentu;
- kegiatan publik lainnya.
Jadwal dan aturan akses dapat berubah, sehingga pengunjung harus mengikuti informasi resmi TNI AL.
Di Surabaya, masyarakat juga bisa mengenal dunia maritim melalui sejumlah tempat yang berkaitan dengan kapal dan TNI AL. Monumen Jalesveva Jayamahe dapat terlihat di kawasan pangkalan laut, sementara Monumen Kapal Selam menjadi salah satu ikon kota.
Kalau ingin menjelajahi kawasan tersebut, kamu bisa sekaligus melihat rekomendasi tempat menarik dan spot foto di Surabaya.
Jejak kapal perang dari masa lalu juga bisa ditemukan melalui wisata sejarah. Di Tulamben, Bali, misalnya, terdapat bangkai USAT Liberty yang kini terkenal sebagai lokasi menyelam. Destinasi tersebut termasuk dalam daftar tempat wisata menarik di Bali Timur.
FAQ Seputar Kapal Perang Tercanggih Indonesia
Apa kapal perang tercanggih milik Indonesia?
Pada 2026, jawabannya tidak lagi hanya satu kapal. KRI Brawijaya-320 dan KRI Prabu Siliwangi-321 merupakan kapal tempur generasi baru TNI AL dengan sistem modern. Bung Tomo Class tetap menjadi salah satu kelas kapal perang canggih dan penting dalam armada Indonesia.
Ada berapa kapal Bung Tomo Class?
Ada tiga kapal, yaitu KRI Bung Tomo-357, KRI John Lie-358, dan KRI Usman Harun-359.
Apakah KRI Bung Tomo masih aktif?
KRI Bung Tomo-357 masih tercatat menjalankan operasi TNI AL pada akhir 2025, termasuk Operasi Laut Natuna Utara.
Apakah KRI John Lie masih digunakan?
Ya. KRI John Lie-358 masih terlihat menjalankan patroli dan terlibat latihan TNI AL pada 2026.
Berapa kecepatan Bung Tomo Class?
Dokumentasi TNI AL ketika kelas ini masuk armada mencatat kemampuan kecepatan sekitar 30 knot lebih.
Apakah Bung Tomo Class membawa rudal?
Konfigurasi yang didokumentasikan ketika kapal masuk TNI AL mencakup rudal antikapal Exocet MM40 Block II. Detail konfigurasi operasional terkini dapat berubah mengikuti modernisasi dan kebijakan TNI AL.
Apakah Bung Tomo Class bisa melawan kapal selam?
Kelas ini dirancang dengan kemampuan peperangan antikapal selam, termasuk sonar dan sistem torpedo dalam konfigurasi yang didokumentasikan TNI AL.
Kenapa disebut Multi Role Light Frigate?
Karena kapal dirancang untuk menjalankan beberapa jenis misi tempur, termasuk menghadapi sasaran permukaan, ancaman bawah air, udara, dan peperangan elektronika.
Apakah KRI Brawijaya lebih canggih dari KRI Bung Tomo?
KRI Brawijaya merupakan kapal generasi yang jauh lebih baru, lebih besar, dan dibekali arsitektur sistem tempur modern. Namun, kedua kelas kapal mempunyai karakteristik dan peran operasional masing-masing.
Berapa panjang KRI Bung Tomo?
Panjang Bung Tomo Class sekitar 89 hingga 89,9 meter dengan lebar sekitar 12,8 meter.
Kesimpulan
Bung Tomo Class mempunyai tempat penting dalam sejarah modernisasi kapal perang TNI Angkatan Laut.
Ketika KRI Bung Tomo-357, KRI John Lie-358, dan KRI Usman Harun-359 bergabung dengan Indonesia pada 2014, ketiganya membawa kemampuan tempur multiperan yang kuat.
Radar, sonar, rudal antikapal, meriam, torpedo, sistem peperangan elektronika, dan kemampuan menjalankan berbagai jenis operasi membuat kelas ini menjadi salah satu kekuatan penting TNI AL.
Lebih dari satu dekade kemudian, perkembangan tidak berhenti.
Kehadiran KRI Brawijaya-320 dan KRI Prabu Siliwangi-321 membuka babak baru modernisasi kapal tempur Indonesia.
Jadi, ketika ditanya kapal perang tercanggih punya Indonesia, jawabannya kini tidak sesederhana menyebut satu nama.
Bung Tomo Class adalah salah satu kapal perang canggih yang membentuk kekuatan modern TNI AL, sedangkan kapal generasi terbaru membawa kemampuan armada Indonesia ke tahap berikutnya.
Yang jelas, melihat perkembangan ini rasanya cukup membanggakan.
Dari kapal-kapal lama, fregat ringan multiperan, korvet, kapal selam, hingga kapal tempur generasi baru, kekuatan laut Indonesia terus berkembang mengikuti perubahan zaman dan teknologi.
Referensi
- TNI Angkatan Laut – Situs Resmi
- TNI AL, Majalah Cakrawala Edisi 422 – MRLF Kelas Bung Tomo
- TNI – Tiga Kapal Perang MRLF Buatan Inggris Perkuat Koarmatim
- TNI AL – Operasi KRI Bung Tomo-357 di Laut Natuna Utara
- TNI AL – Patroli KRI John Lie-358 di Laut Natuna Utara
- TNI AL – Peresmian KRI Brawijaya-320
- Fincantieri – Delivery of KRI Brawijaya-320 to the Indonesian Navy
- TNI AL – KRI Prabu Siliwangi-321 Bertolak dari Italia
- PT Len Industri – Modernisasi KRI Usman Harun-359