Menghadapi Virus Corona Wuhan menggunakan Strategi Militer

By | March 25, 2020

Menghadapi Virus Corona Wuhan menggunakan Strategi Militer

Bila kita benar benar serius menganggap virus Corona sebagai musuh maka mau tak mau kita memasuki wilayah perang dengan menggunakan strategi militer.

Dengan strategi militer maka mengalahkan musuh berarti melakukan beberapa jenis operasi gabungan

Operasi dimaksud secara umum adalah penghambatan, dislokasi dan disintegrasi.

Penghambatan berarti menempatkan pasukan bersenjata di lokasi yang lebih menguntungkan dan pada waktu yang lebih menguntungkan untuk menghancurkan pasukan musuh lebih cepat daripada yang dapat mereka kuasai .

Menerapkan ini pada kenyataan pandemic corona , itu berarti menempatkan pasukan yang melakukan tindakan untuk penghambatan total persebaran pasukan virus untuk tumbuh dan menyebar ke inangnya. Inang yang dimaksud adalah manusia.

Dan, pertama dan terutama, ini mengacu pada pendekatan yang bertanggung jawab, yaitu pasukan yang mengintensifkan kondisi isolasi dini inang atau calon inang yang disengaja.

Jika isolasi diri dan sosial inang hanya sebuah reaksi, maka isolasi yang lebih intensif calon inang pada tahap awal dapat menjadi langkah proaktif terhadap penyebaran infeksi virus.

Menghadapi Virus Corona Wuhan menggunakan Strategi Militer

Operasi kedua adalah dislokasi, yang berupaya dengan cepat mengubah kondisi sehingga musuh tidak dapat mengambil inisiatif.

Bila dalam operasi pertama adalah kondisi musuh belum masuk maka operasi kedua menekankan pendekatan dimana musuh sudah mulai masuk melakukan perembesan ke wilayah pertahanan kita. Namun dua hal inipun sebaiknya dilakukan bersamaan .

Dengan menyadari coronavirus adalah musuh, maka itu perlu dilakukan tindakan isolasi agar tak bisa ada inisiatif membahayakan inang dan calon inang. Maka langkahnya adalah memecahnya menjadi kelompok-kelompok kecil – yaitu dengan menutup sekolah, universitas dan semua tempat umum pada umumnya, uga membatasi jaringan transportasi.

Sejalan dengan ini, pengujian efktivitas tindakan harus dilakukan dan layanan bantuan medis tambahan harus disiapkan.

Untuk menghindari dan mencegah kebebasan berkumpul sehubungan dengan langkah-langkah tertentu, ruang publik digital khusus harus dibuat.

Operasi ketiga adalah disintegrasi. Dalam perang, ini merujuk pada efek destruktif dari tembakan massal terhadap sasaran.

Untuk pandemi, itu adalah vaksinasi. Ini sebenarnya metode yang paling efektif, dan juga paling sederhana untuk diterapkan.

Tetapi apa yang harus dilakukan jika vaksin belum ada? Tindakan apa yang perlu digunakan dalam peperangan ketika tidak ada cukup amunisi?

Memang ini cukup kompleks, tetapi, pada saat yang sama, itu harus diselesaikan tanpa penundaan.

Maka perlu menggunakan cara lain yang mampu menggantikan daya tembak, atau jumlah bom dan peluru yang diperlukan harus dibuat (dibeli / dipinjam dari pihak ketiga) sebagai masalah prioritas.

Penggunaan pil kina dan obat anti flu yang sudah ada berdasarkan pengalaman penyerangan musuh yang mirip di masa lalu sebagai alternative penghancuran/disintegrasi mungkin menjadi suatu langkah positif yang perlu diapresiasi. Sebelum ditemukan senjata yang lebih fektif yaitu vaksin itu sendiri.

Yang perlu dipertimbangkan dalam dalam adalah kenali dimana posisi kekuatan pasukan sendiri dan kenali posisi dan kekuatan pasukan musuh.

Mengingat bahwa belum ada peluru mematikan yang mampu digunakan untuk mematikan musuh maka penggabungan operasi ini dengan titik berat di operasi pertama dan kedua mutlak dilakukan .

Keberhasilan menerapkan strategi operasi gabungan ini akan nampak dari tingkat persebaran tingkat dampak yang terjadi seiring dengan waktu.

Dari sekian banyak operasi yang dilakukan di banyak negara maka kita dapat bercermin pada tingkat keberhasilan operasi gabungan melawan coronavirus di Vietnam.

Walau berada tepat di perbatasan Cina, Vietnam telah benar-benar menghentikan virus di jalurnya dengan pendekatan cepat, efektif, tanpa basa-basi.

Sejak awal wabah pada bulan Januari, Vietnam hanya melihat 16 kasus virus. Setiap orang telah berhasil dirawat dan dikirim pulang dengan selamat, termasuk bayi berusia 3 bulan . Belum ada kasus baru dalam dua minggu terakhir. Singkatnya, Vietnam telah berhasil menghalau coronavirus.

Kecepatan penerapan operasi gabungan menggunakan strategi militer di tingkat dini menjadi kunci keberhasilan Vietnam. Bahkan WHO pun memujinya

Simak lengkap
https://chaohanoi.com/…/why-vietnam-has-been-the-number-on…/

Bandingkan dengan Iran dan Italia yang terlambat dan menyepelekan kerusakan yang diakibatkan oleh Corona virus pada awalnya. .

Keberhasilan terbesar negara itu dalam menangani virus adalah tanggapan cepat, memahami tingkat keparahan masalah dan pemantauan ketat terhadap siapa saja yang telah menunjukkan gejala tunggal. Walau hanya menemukan hanya enam pasien yang terinfeksi di negara itu, Vietnam langsung menyatakan virus itu epidemic nasional , dan menjadi salah satu negara pertama yang melakukannya.

Deteksi dini, isolasi awal, dan perawatan aktif sangat penting. Tindakan awal Vietnam menghentikan penyebaran penyakit lebih lanjut, menyelamatkan ribuan nyawa.

Penutupan langsung dan luas sekolah di seluruh negara juga meminimalkan risiko. Ini merupakan waktu yang menakutkan bagi keluarga muda, tetapi transparansi Vietnam telah mengurangi banyak kecemasan.

Upaya-upaya ini telah menciptakan warga negara yang berhati-hati dan waspada, semuanya memainkan peran mereka sendiri untuk memperlambat dan akhirnya menghentikan infeksi.

Vietnam bahkan telah membuat kemajuan ilmiah dalam memerangi penyakit ini, mengembangkan alat uji canggih dan menciptakan sistem peringatan dini global. Aljazeera bahkan menggambarkan respons negara itu sebagai keajaiban.

Dengan berkaca pada keberhasilan Vietnam, mengapa kita ragu ragu untuk menerapkan kondisi darurat sipil secara cepat ?

Padahal waktu dan kecepatan diiringi langkah langkah operasi diatas adalah kunci keberhasilan.

Apakah anda yang terlihat gagah dan hebat di masa damai untuk menghabisi musuh musuh politik tetapi sebenarnya Jenderal “Cepirit “ yang bimbang hingga ketakutan dengan resiko hingga basah celana saat hadapi peperangan sesungguhnya dan musuh di depan mata dengan korbankan rakyat ? Sekian

Adi Ketu (sumber)

Comments

comments