Sepiring NASIonalisme

Sepiring NASIonalisme

Ini pengalaman pribadi saya tentang secangkir teh yang hangatnya masih saya rasakan hingga berbelas, hingga berpuluh tahun kemudian.

Sore itu aku diboncengin Bapak naik motor. Hujan turun tanpa aba-aba. Seketika Bapak menambah kecepatan, seperti balapan sama hujan. Betapa sulitnya mencari tempat berteduh karena saat itu kami sedang melewati bulak (jalan yang melewati persawahan atau hutan, tanpa hunian) yang sangat panjang. Ketika baju setengah basah tampak satu rumah di kiri jalan mengadap persawahan. Itulah satu-satunya pilihan kami berteduh.

Rumah itu kecil saja. Terasnya juga hanya dua meter lebarnya, tapi disediakan bangku-bangku kayu untuk duduk dua orang dan rebahan satu orang. Di tengah-tengahnya sebuah meja kecil, ada sebuah teko dan dua cangkir blirik di atasnya.

Sepiring NASIonalisme

Bapak mengucap salam sampai tiga kali tak ada jawaban. Kami pun memberanikan diri duduk. Di situlah kami melihat, di dekat teko ada tulisan tangan bunyinya “Monggo diombe,” artinya silahkan diminum. Kami pun meminumnya. Secangkir teh tawar suam-suam kuku, mengalihkan hangat ke dalam tubuh dua orang yang sedang kedinginan.

Betapa baiknya orang ini. Sepertinya terlalu sering rumah ini dijadikan tempat berteduh. Ada yang kehujanan, kepanasan, kelelahan, atau mungkin kehausan. Tak semuanya bisa ditemui dan ditemani, maka ditaruhlah seteko air teh ini sebagai peringannya. Menolong tanpa mengenal nama.

***

Hari-hari ini, di antara jalan yang sepi, di tengah himbauan tidak keluar rumah, saya masih melihat beberapa masih berseliweran demi mencari nafkah. Ada tukang servis payung, ojol, penjual pot, penjual bingkai, ada juga tukang bersih-bersih rumput dan got. Apakah mereka sudah dapat uang? Apakah mereka sudah makan?

Saya tidak bisa berbuat banyak. Saya hanya meniru si pemberi teh tawar dahulu. Satu pertolongan kecil begitu berarti bagi yang sedang sangat membutuhkan. Mungkin tak perlu muluk-muluk, kalau satu rumah satu piring, sudah berapa yang tertolong?

BACA JUGA :  Matahari Kembar Bernama Anies Baswedan Oleh Catatan Mas Blangkon

Kita tak saling mengenal, tapi sedang menghadapi resiko yang sama. Saling menyelamatkan itu lebih baik daripada menyelamatkan diri sendiri. (sumber)

Comments

comments