Pilih Nikah atau Cerai Muda di Usia 20-25 Tahun?

By | March 25, 2020

Pilih Nikah atau Cerai Muda di Usia 20-25 Tahun. Kenapa sih banyak janda muda sekarang ini? Apalagi baru beranak satu. Fenomena ini mencuat di banyak kota kecil maupun besar. Biasanya ketika menikah ada di antara 20-25 tahun. Etape ketika manusia tengah pengin coba-coba yang baru dikenal, eksplorasi.

Menikah di usia-usia ini beresiko cerai, atau setidaknya perang status medsos, saling sindir. Itu jika pada periode sebelumnya, 15-20 tahun, tidak kelar temukan diri dan tugas hidup. Ketika di level sebelumnya belum beres, ketika beranak-pinak di tingkat selanjutnya kemungkinan tularkan pola serupa ke anak-cucu.

Di dalam nilai Jawa, fase pernikahan antara 20-25 tahun itu disimbolkan dalam tembang Asmarandana. Fase ini kritis jika tanpa panduan senior yang terlebih dulu meniti jalan. Bisa beresiko hamil di luar nikah atau jadi pelabuhan untuk mengarungi samudera menuju tingkat selanjutnya.

Pilih Nikah atau Cerai Muda di Usia 20-25 Tahun?

Gak kaget klo masuk usia 20-30 tahun adalah penempaan tarekat atau jalan laku riyadhoh. Fisik ditempa untuk bisa seimbangkan dengan situasi dan kondisi batin. Kehidupan berumahtangga kan gak sesederhana pacaran yang bisa gampang main block di medsos. Kemampuan mengatur emosi, bahkan yang berasal dari perhitungan keuangan, sangat perlu dilatih.

Di sini krusial dalam memilih jodoh. Orang khoir atau baik harus berani memilih, bukannya terpilih. Berdasarkan makrifat lewat pengetahuan dan pengalaman, mampu ambil pasangan hidup yang sesuai kebutuhan penuhi tugas di dunia.

Meski ada opsi boleh menyerah ketika terus ada gegeran dalam rumah tangga, ada juga pilihan terus berjuang. Keduanya harus berdasarkan pilihan yang matang dan gak asal ganteng, cantik, kaya, dan semok. Persis konsep hijrah yang perlu bekal dan perhitungan. Setidaknya bisa seperti seorang bijak yang biasa dibantuin singa ketika mencari kayu bakar sebab sabar hadapi istri galak.

Tips lain hindari gegeran sebagai pasutri adalah belajar hormati dulu. Klo gak cocok pendapat cukup diam saja. Bermental muka beton, kepala tank. Demi hindari perdebatan. Sebab marah pun ada tingkatannya.

Dari ghodob yang hari ini marah, besok masih sayang. Kemudian murka lewat “gak kuanggap istri/suami/anak” yang berujung kualat. Jangan sampai sebab prasangka buruk secuil, piring beterbangangan.

Oleh Kapimoda Syanta.

(sumber)

Comments

comments