Plus Minus Rapid Test Covid-19

By | March 25, 2020

Plus Minus Rapid Test Covid-19. Dirjen WHO menyerukan “Testing, testing, testing,” untuk menapis kasus warga suatu negara yang positif mengidap Covid-19. Presiden Jokowi merespons imbauan ini dengan mendatangkan ribuan rapid test kit bagi Covid-19.

Ada dua ikatan profesi medis yang sebenarnya tidak merekomendasikan rapid test ini dengan berbagai pertimbangan mereka. Saya sudah memperoleh info ini beberapa hari lalu, namun saya menahannya sampai ada penjelasan: Alternatif apa jika kita tidak melakukan penapisan massal dengan rapid test, ketika akses terhadap tes swab dengan PCR masih terbatas sementara masyarakat mulai panik?

Saya baru memperoleh jawaban dari sahabat saya, dr Widyastuti Soerojo MSc, dokter lulusan FK UI 1971 yang low profile. Dia sendiri mencari berbagai info dari para sejawatnya. Berikut ini penjelasan dr Tuti:

Saya tergelitik membaca kalimat terakhir Pak A… “…Pemerintah tidak dapat mengambil alternatif do nothing”. Mungkin maksudnya setelah ditemukannya kasus yang terus bertambah.

Plus Minus Rapid Test Covid-19

Izinkan saya dengan segala kerendahan hati share yang berikut ini, setelah saya tahan-tahan, saya lihat-lihat dulu apa betul perlu info ini dan setelah Mbak NS mendorong saya untuk share beberapa hari yang lalu.

Sejak awal saya sudah melihat keterbatasan Rapid Test, dan merasa khawatir ketika membaca postingan di WAG dan komen harapannya akan Rapid Test. Karena Rapid Test adalah tes serologik dan yg dites adalah antibodi di darah, bisa berisiko false negative kalau antibodi belum terbentuk.

Saya khawatir pemerintah tidak menjelaskan dengan lengkap tujuan dan manfaat yang disertai keterbatasan interpretasi hasil.

Rapid test adalah pemeriksaan serologis (pemeriksaan darah) untuk mengukur antibodi (immunoglobulin IgM dan IgG) terhadap antigen virus Covid-19, yang terbentuk kira-kita tujuh hari setelah terinfeksi. Jadi bagi yang terinfeksi misal baru 3 hari, belum terbentuk antibodi, maka Rapid Testnya negatif.

Ini disebut False Negative, tahu-tahu muncul sakit pada hari ke-10 karena antibodi tidak cukup atau tidak terbentuk. Jadi yang Rapid Testnya negatif jangan keburu senang, bisa memang True Negative, bisa False Negative. Harus periksa ulang. Kapan, di mana, dan bagaimana penanganannya, mestinya ada di protokolnya.

Jadi apa gunanya Rapid Test? Ada gunanya. Untuk rapid mass screening, mendapatkan Rapid Test positif dengan cepat daripada pakai tracing kasus satu persatu yang lamban untuk penemuan kasus.

Sehingga bisa mencegah misleading interpretasi situasi Indonesia. Jumlah tracing positif 369 kasus, kematian 35 orang, dianggap case fatality rate Indonesia hampir 10%, padahal denominatornya msh kelewat kecil, jumlah kasus positif tidak menggambarkan yang sebenarnya, masih banyak yang tidak terdeteksi. Ini gunanya Rapid Test, sebatas penemuan kasus massal secara cepat.

Hasil Rapid Test positif, apakah benar positif? Belum tentu, tapi sdh Siaga 1. Yang Rapid Test positif dikirim langsung untuk konfirmasi dengqn PCR swab. Ini test yang sensitif untuk cek langsung antigennya/virus Covid-19.

Hasil PCR dari RT positif, bisa True Positive (ini positif corona), bisa False Positive (artinya ada kekebalan virus non spesifik corona)

Penanganan masing-masing harus sesuai protokol.

Kalau yang di grafik di bawah adalah keresahan saya terhadap sensitivitas Rapid Test yang saya cari konfirmasinya terhadap dugaan False Negative yang bisa memberikan harapan palsu buat masyarakat. blBerikut ini adalah pendapat ahli yang saya terima belakangan:

Jadi Rapid Test berguna untuk rapid mass screening (daripada tracing kasus secara individual) yang hqrus diikuti PCR untuk Rapid Test positif sebagai confirmation test.

Sedikit bekal dalam penggunaan test cepat antibodi IgM/IgG SARS -CoV-2 (Covid-19):
Test ini bertujuan untuk mendeteksi zat anti (antibodi) baik kelas igM maupun IgG terhadap SARS-CoV-2 (virus penyebab Covid19). Zat anti tersebut terbentuk saat seseorang terpapar dg SARS-Cov-2 tapi perlu waktu beberapa hari setelah paparan. IgM muncul lebih dulu diikuti IgG beberapa hari kemudian.

Artinya apa? Pada saat seseorang sudah “mengandung” virus SARS-Cov-2 di tenggorokannya bisa jadi IgM dan atau IgGnya belum terdeteksi oleh test kit serologi ini.
*Jadi kalau hasil test negatif jangan lega dulu.*

Tetap jaga jarak 1-2 meter dan hindari ke tempat umum, serta cuci tangan, karena hasil negatif dapat berarti dua kemungkinan:
1/ ybs betul-betul bersih tidak terpapar, tapi juga tidak kebal.
2/ ybs sudah infeksius tapi belum membentuk IgM atau IgG anti SARS-CoV-2, sehingga berpotensi menularkan pada orang lain.

*Jangan merasa aman dari penularan (tertular atau menularkan) SARS-CoV-2 bila hasil IgM/G negatif. Tetaplah waspada.*

Ini penjelasan Dr. Alida R H, PhD, SpPK
Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Klinik dan Kedokteran Laboratorium Indonesia (PDSPatKLIn) cabang Jakarta (sumber).

Comments

comments