Liburan ke Bali tidak selalu harus diisi dengan pantai, beach club, atau tempat nongkrong kekinian. Kalau kamu ingin mengenal Pulau Dewata dari sisi yang lebih dalam, berkunjung ke desa adat di Bali bisa menjadi pengalaman yang sangat berkesan.
Di desa adat, kamu bisa melihat langsung bagaimana masyarakat Bali menjaga tradisi, tata ruang, arsitektur rumah, upacara, kerajinan tangan, hingga cara hidup yang diwariskan turun-temurun. Beberapa desa bahkan menyediakan homestay, aktivitas budaya, trekking, kelas memasak, hingga tur desa yang membuat liburan terasa lebih dekat dengan kehidupan lokal.
Menariknya, setiap desa adat di Bali punya karakter yang berbeda. Ada yang terkenal karena rumahnya tertata rapi, ada yang dikenal sebagai desa Bali Aga, ada yang punya kerajinan khas, ada juga yang unik karena memadukan budaya Bali dengan nilai Kristiani.
Kalau kamu sedang menyusun itinerary liburan budaya di Bali, jangan hanya berhenti di destinasi populer. Baca juga artikel isi dan makna Canang Sari di Bali agar kamu lebih paham simbol-simbol kecil yang sering terlihat saat berjalan di desa adat maupun area pura.
Daftar Isi Tulisan
Kenapa Harus Mengunjungi Desa Adat di Bali?
Desa adat di Bali menawarkan pengalaman yang berbeda dari wisata biasa. Di sini, kamu tidak hanya datang untuk mengambil foto, tetapi juga belajar tentang cara masyarakat menjaga keseimbangan antara manusia, alam, dan tradisi.
Beberapa desa adat masih mempertahankan pola ruang tradisional, rumah dengan bentuk khas, ritual lokal, kesenian, dan aturan adat yang dijalankan bersama oleh masyarakat. Bagi wisatawan, pengalaman seperti ini bisa membuat liburan terasa lebih bermakna.
Hal yang Bisa Kamu Dapatkan Saat Berkunjung ke Desa Adat
- Melihat arsitektur rumah tradisional Bali secara langsung.
- Belajar tentang adat, budaya, dan kehidupan masyarakat lokal.
- Mencoba aktivitas seperti menenun, membuat canang, memasak, atau trekking desa.
- Menginap di homestay dan merasakan suasana pedesaan Bali.
- Mendukung ekonomi warga lokal melalui wisata berbasis komunitas.
- Menikmati sisi Bali yang lebih tenang, alami, dan tidak terlalu komersial.
Catatan Penting Sebelum Datang
Desa adat bukan sekadar objek wisata. Bagi masyarakat setempat, desa adalah ruang hidup, ruang ibadah, dan ruang sosial. Jadi, pengunjung harus menjaga sikap, berpakaian sopan, tidak sembarangan masuk ke area suci, dan selalu mengikuti aturan lokal.
Sebelum berkunjung, kamu juga bisa membaca fakta unik nama orang Bali asli. Artikel tersebut bisa membantu kamu memahami mengapa banyak orang Bali memiliki nama seperti Wayan, Made, Nyoman, atau Ketut.
1. Desa Penglipuran, Bangli

Desa Penglipuran adalah salah satu desa adat paling terkenal di Bali. Lokasinya berada di Kabupaten Bangli dan dikenal karena tata ruangnya yang rapi, bersih, serta arsitektur rumah tradisional yang seragam dari ujung ke ujung desa.
Begitu masuk ke kawasan desa, kamu akan melihat jalan utama yang tertata simetris dengan deretan rumah tradisional di sisi kanan dan kiri. Nuansanya sangat tenang, hijau, dan terawat. Tidak heran jika Penglipuran sering disebut sebagai salah satu desa wisata paling bersih dan paling tertata di Bali.
Penglipuran juga termasuk desa yang masih menjaga kuat tradisi dan identitas lokalnya. Meski sudah menjadi destinasi wisata populer, suasana desa tetap terasa khas dan tidak kehilangan karakter tradisionalnya.
Daya Tarik Desa Penglipuran
- Rumah-rumah tradisional yang tertata rapi dan seragam.
- Lingkungan desa yang bersih, hijau, dan nyaman untuk berjalan kaki.
- Suasana pedesaan Bali yang tenang.
- Hutan bambu di sekitar desa.
- Homestay dan pengalaman tinggal bersama warga lokal.
- Cocok untuk wisata budaya, foto, dan liburan keluarga.

Aktivitas yang Bisa Dilakukan di Penglipuran
Kamu bisa berjalan santai menyusuri jalan utama desa, melihat bentuk angkul-angkul rumah tradisional, ngobrol dengan warga, mencicipi kuliner lokal, atau berfoto di beberapa sudut desa. Jika ingin pengalaman lebih dalam, menginap di homestay bisa menjadi pilihan menarik.
Karena suasananya ramah untuk keluarga, Penglipuran juga cocok dimasukkan dalam itinerary jika kamu liburan bersama anak-anak. Sebagai tambahan, cek juga rekomendasi tempat wisata di Bali yang ramah anak kecil.
Tips Berkunjung ke Desa Penglipuran
- Datang pagi agar suasana lebih sepi dan udara masih segar.
- Gunakan pakaian yang sopan karena ini adalah kawasan adat.
- Jangan masuk ke rumah warga tanpa izin.
- Jaga kebersihan dan jangan membuang sampah sembarangan.
- Beli produk lokal atau makanan warga untuk mendukung ekonomi desa.
Jika ingin melanjutkan eksplorasi wisata budaya dan alam setelah Penglipuran, kamu bisa membaca artikel tempat wisata baru di Bali untuk menambah ide perjalanan.
2. Desa Budakeling, Karangasem

Desa Budakeling berada di Kecamatan Bebandem, Kabupaten Karangasem. Lokasinya berada di wilayah Bali Timur, tidak jauh dari Amlapura, dan dikenal sebagai salah satu desa yang punya potensi wisata budaya, kerajinan, serta suasana pedesaan yang sejuk.
Budakeling menarik karena menawarkan pengalaman yang lebih tenang dan tidak terlalu ramai seperti destinasi populer di Bali Selatan. Di desa ini, wisatawan bisa mengenal kehidupan masyarakat lokal, berinteraksi dengan warga, hingga melihat kerajinan khas yang berkembang di desa.
Desa ini juga dikenal sebagai salah satu kawasan penghasil kerajinan perak. Selain itu, suasana pedesaan, persawahan, dan latar Gunung Agung membuat pengalaman berkunjung ke Budakeling terasa lebih alami.
Daya Tarik Desa Budakeling
- Suasana desa yang sejuk dan relatif tenang.
- Dikenal dengan kerajinan perak.
- Bisa menjadi pilihan wisata budaya di Karangasem.
- Memiliki aktivitas desa seperti trekking, bersepeda, dan interaksi dengan warga.
- Cocok untuk wisatawan yang ingin melihat Bali dari sisi yang lebih lokal.
Aktivitas yang Bisa Dicoba
Di Budakeling, kamu bisa menjelajahi desa, melihat aktivitas warga, belajar tentang kerajinan lokal, berbelanja di pasar tradisional, atau mengikuti aktivitas wisata berbasis masyarakat jika tersedia. Beberapa wisatawan juga memilih menginap di homestay untuk merasakan suasana desa lebih lama.
Karena Budakeling berada di Karangasem, kamu bisa menggabungkannya dengan destinasi lain di Bali Timur. Untuk referensi tambahan, baca artikel tempat wisata Bali Timur yang bisa kamu kunjungi.
Tips Berkunjung ke Budakeling
- Gunakan kendaraan pribadi atau sewa kendaraan karena akses transportasi umum terbatas.
- Datang dengan waktu yang cukup, jangan hanya mampir sebentar.
- Jika ingin melihat kerajinan, tanyakan dulu kepada warga atau pengelola wisata desa.
- Hormati kegiatan adat dan aktivitas warga.
- Bawa uang tunai untuk membeli produk lokal atau kebutuhan kecil.
3. Desa Jasri, Karangasem

Desa Jasri juga berada di Kabupaten Karangasem. Desa ini menarik karena memiliki lanskap yang lengkap: persawahan, perkebunan, aliran sungai, perbukitan, dan kawasan pesisir. Kombinasi inilah yang membuat Jasri cocok untuk wisatawan yang ingin mencoba banyak aktivitas dalam satu desa.
Jasri dikenal sebagai salah satu desa kuno di Karangasem. Selain kehidupan tradisional, desa ini juga menawarkan berbagai aktivitas wisata seperti village tour, trekking, cycling, surfing, kelas memasak, belajar menari Bali, membuat canang, yoga, meditasi, hingga aktivitas bersama nelayan.
Kalau kamu ingin mengunjungi desa adat yang tidak hanya menawarkan pemandangan, tetapi juga pengalaman langsung, Jasri bisa menjadi pilihan yang menarik.
Daya Tarik Desa Jasri
- Memiliki kombinasi sawah, sungai, bukit, dan pantai.
- Cocok untuk aktivitas outdoor seperti trekking dan cycling.
- Menyediakan pengalaman budaya seperti membuat canang dan belajar tarian Bali.
- Ada aktivitas laut seperti surfing dan memancing.
- Memiliki homestay atau akomodasi berbasis warga.
- Suasananya cocok untuk traveler yang ingin liburan lebih pelan.
Aktivitas Budaya di Jasri
Salah satu hal menarik dari Jasri adalah pilihan aktivitas budaya yang cukup beragam. Kamu bisa belajar membuat canang, mengikuti kelas memasak, mencoba tarian Bali, atau sekadar berjalan menyusuri desa sambil melihat kehidupan warga.
Jika kamu tertarik dengan makna persembahan di Bali, baca juga artikel makna Canang Sari di Bali agar kunjungan ke desa seperti Jasri terasa lebih bermakna.
Tips Berkunjung ke Desa Jasri
- Pilih paket aktivitas yang sesuai minat, misalnya trekking, budaya, atau surfing.
- Gunakan pakaian dan alas kaki yang nyaman.
- Jika ingin mengikuti kelas budaya, sebaiknya pesan lebih dulu.
- Hormati area rumah warga dan tempat suci.
- Gabungkan dengan itinerary Karangasem agar perjalanan lebih efisien.
Setelah mengunjungi Jasri, kamu bisa melanjutkan perjalanan ke Candidasa, Tenganan, atau destinasi Bali Timur lain. Jika ingin mencicipi makanan lokal di wilayah timur, baca juga makanan khas Bali Timur yang wajib dicoba.
4. Desa Tenganan Pegringsingan, Karangasem

Desa Tenganan Pegringsingan adalah salah satu desa adat paling penting di Bali. Desa ini dikenal sebagai desa Bali Aga, yaitu komunitas Bali tua yang masih mempertahankan tradisi, tata ruang, dan aturan adat yang diwariskan dari leluhur.
Berbeda dari banyak desa lain di Bali, Tenganan memiliki pola kehidupan dan tata desa yang sangat khas. Bentuk bangunan, pekarangan, pura, hingga pembagian ruang desa mengikuti aturan adat yang sudah lama dijaga.
Salah satu daya tarik utama Tenganan adalah kain tenun Gringsing. Kain ini sangat terkenal karena proses pembuatannya rumit dan memiliki nilai budaya tinggi. Pengunjung bisa melihat langsung perajin lokal membuat tenun, sekaligus belajar tentang filosofi di baliknya.
Daya Tarik Desa Tenganan Pegringsingan
- Dikenal sebagai desa Bali Aga atau desa tua di Bali.
- Memiliki tata ruang dan arsitektur tradisional yang khas.
- Terkenal dengan kain tenun Gringsing.
- Menawarkan pengalaman wisata budaya yang kuat.
- Ada tradisi unik seperti Perang Pandan atau Mekare-kare pada waktu tertentu.
- Cocok untuk pecinta sejarah, budaya, dan fotografi.

Kain Gringsing yang Legendaris
Kain Gringsing adalah salah satu kekayaan budaya Tenganan yang paling dikenal. Proses pembuatannya memerlukan keterampilan tinggi dan waktu yang tidak sebentar. Karena itulah kain ini bukan hanya produk kerajinan, tetapi juga bagian dari identitas budaya masyarakat Tenganan.
Jika kamu tertarik dengan tradisi Bali lainnya, baca juga artikel pertunjukan Calonarang di Bali yang membahas sisi lain seni pertunjukan dan kepercayaan lokal Bali.
Tips Berkunjung ke Tenganan
- Datang dengan sikap hormat karena desa ini masih sangat kuat adatnya.
- Jangan memotret orang atau aktivitas tertentu tanpa izin.
- Jika membeli kain atau kerajinan, pastikan memahami nilainya sebagai karya budaya.
- Gunakan pemandu lokal jika ingin memahami sejarah dan tradisi lebih dalam.
- Cek kalender acara jika ingin melihat tradisi tertentu seperti Mekare-kare.
Tenganan berada di wilayah Karangasem, sehingga cocok digabung dengan perjalanan ke Pantai Candidasa, Pura Besakih, atau Tulamben. Kamu bisa memakai artikel wisata Bali Timur sebagai panduan tambahan.
5. Desa Blimbingsari, Jembrana

Desa Blimbingsari berada di Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, Bali Barat. Desa ini punya karakter yang sangat unik karena dikenal sebagai desa wisata rohani dengan masyarakat yang mayoritas beragama Kristen, tetapi tetap mempertahankan identitas budaya Bali.
Keunikan Blimbingsari terletak pada akulturasi budaya Bali dan nilai Kristiani. Di sini, kamu bisa melihat bagaimana arsitektur, tradisi, dan kehidupan masyarakat Bali berpadu dengan aktivitas rohani Kristen. Salah satu ikon yang sering dibicarakan adalah gereja dengan nuansa arsitektur Bali.
Selain wisata rohani, Blimbingsari juga menawarkan suasana desa yang rapi, bersih, dan tenang. Pengunjung bisa menikmati homestay, aktivitas komunitas, hiking, trekking, outbound, hingga melihat kegiatan lokal seperti pembuatan kopra atau gula aren.
Daya Tarik Desa Blimbingsari
- Desa wisata rohani dengan perpaduan budaya Bali dan nilai Kristiani.
- Memiliki suasana desa yang bersih, rapi, dan tenang.
- Tersedia homestay dan paket wisata berbasis masyarakat.
- Cocok untuk retreat, wisata rohani, dan wisata budaya.
- Memiliki aktivitas alam seperti trekking dan hiking.
- Dekat dengan jalur Bali Barat dan Pelabuhan Gilimanuk.
Pengalaman yang Bisa Dicoba
Di Blimbingsari, kamu bisa mengikuti aktivitas rohani, menginap di homestay, berinteraksi dengan warga, menjelajahi desa, atau mencoba aktivitas alam di sekitar Jembrana. Desa ini cocok untuk traveler yang ingin melihat sisi Bali yang berbeda dari kawasan wisata populer.
Karena lokasinya berada di Bali Barat, kamu bisa menggabungkannya dengan eksplorasi destinasi sekitar Jembrana, Melaya, atau Gilimanuk. Untuk ide tambahan, baca kuliner Bali Barat yang harus kamu coba.
Tips Berkunjung ke Blimbingsari
- Hubungi pengelola desa wisata atau homestay sebelum datang.
- Datang dengan waktu yang cukup karena lokasinya cukup jauh dari Bali Selatan.
- Hormati kegiatan ibadah dan aktivitas masyarakat setempat.
- Gunakan pakaian sopan, terutama saat mengunjungi area rohani.
- Gabungkan dengan itinerary Bali Barat agar perjalanan lebih efisien.
Perbandingan 5 Desa Adat di Bali
Setiap desa adat di Bali punya karakter berbeda. Agar lebih mudah memilih, berikut perbandingan singkatnya.
Desa |
Lokasi |
Daya Tarik Utama |
Cocok Untuk |
|---|---|---|---|
Penglipuran |
Bangli |
Desa bersih, rumah tradisional seragam, hutan bambu |
Keluarga, wisata budaya, fotografi |
Budakeling |
Karangasem |
Kerajinan perak, suasana pedesaan, homestay |
Wisata budaya dan interaksi lokal |
Jasri |
Karangasem |
Sawah, sungai, pantai, aktivitas budaya dan outdoor |
Traveler aktif dan pecinta pengalaman lokal |
Tenganan Pegringsingan |
Karangasem |
Desa Bali Aga, kain Gringsing, tradisi kuno |
Pecinta sejarah, budaya, dan kerajinan |
Blimbingsari |
Jembrana |
Wisata rohani, akulturasi budaya Bali dan Kristen |
Wisata rohani, retreat, Bali Barat |
Etika Berkunjung ke Desa Adat di Bali
Karena desa adat adalah ruang hidup masyarakat, ada beberapa etika yang perlu kamu perhatikan. Ini penting agar kunjunganmu tidak mengganggu warga dan tetap menghormati budaya lokal.
1. Gunakan Pakaian yang Sopan
Hindari pakaian terlalu terbuka, terutama saat masuk ke area pura, bale adat, atau tempat yang dianggap sakral. Jika diminta memakai kain atau selendang, ikuti aturan tersebut.
2. Jangan Masuk Rumah Warga Tanpa Izin
Beberapa rumah di desa adat mungkin terlihat menarik untuk difoto. Namun, tetap ingat bahwa itu adalah rumah pribadi. Minta izin dulu sebelum masuk atau mengambil foto terlalu dekat.
3. Jangan Menginjak Canang Sari
Canang Sari sering diletakkan di depan rumah, pura, toko, atau jalan kecil. Jika menemukannya, jangan diinjak atau dilangkahi sembarangan. Jika ingin memahami maknanya, baca artikel isi dan makna Canang Sari di Bali.
4. Hormati Upacara Adat
Jika kebetulan ada upacara adat, jangan menghalangi jalannya prosesi. Ambil foto dari jarak aman, jangan memakai flash berlebihan, dan ikuti arahan warga atau pemandu lokal.
5. Gunakan Pemandu Lokal Jika Perlu
Pemandu lokal bisa membantu menjelaskan sejarah desa, aturan adat, dan makna simbol-simbol yang kamu lihat. Selain itu, memakai jasa pemandu lokal juga membantu ekonomi masyarakat desa.
Jangan Datang Hanya untuk Foto
Foto memang bagian dari perjalanan, tetapi desa adat menawarkan pengalaman yang lebih dalam dari sekadar spot Instagram. Luangkan waktu untuk membaca cerita tempatnya, mendengarkan warga, dan memahami kehidupan lokal.
Tips Menyusun Itinerary Desa Adat di Bali
Agar perjalanan lebih nyaman, jangan memaksakan semua desa dalam satu hari. Lokasinya tersebar di beberapa kabupaten, sehingga lebih baik mengelompokkan kunjungan berdasarkan area.
Itinerary Bali Timur
Untuk area Karangasem, kamu bisa menggabungkan Budakeling, Jasri, dan Tenganan Pegringsingan. Jika masih ada waktu, lanjutkan ke Candidasa, Pura Besakih, atau destinasi Bali Timur lainnya.
Contoh Rute Bali Timur
- Pagi: Budakeling atau Tenganan.
- Siang: makan siang di area Candidasa.
- Sore: Desa Jasri atau pantai sekitar Karangasem.
Itinerary Bangli
Untuk Penglipuran, kamu bisa menggabungkannya dengan Kintamani, Danau Batur, atau pemandian air panas di kawasan Batur. Baca juga artikel wisata pemandian air panas di Bali jika ingin menambahkan agenda relaksasi.
Itinerary Bali Barat
Untuk Blimbingsari, sebaiknya jadikan sebagai bagian dari rute Bali Barat. Kamu bisa menggabungkannya dengan Jembrana, Gilimanuk, atau destinasi alam di sekitar Bali Barat.
Jika ingin mengeksplor sisi Bali yang lebih sepi, baca juga kuliner Bali Barat dan wisata kekinian di Bali Utara untuk referensi lanjutan.
Transportasi Menuju Desa Adat di Bali
Sebagian desa adat di Bali tidak selalu mudah dijangkau dengan transportasi umum. Karena itu, pilihan paling praktis biasanya adalah menyewa motor, mobil, atau menggunakan jasa sopir lokal.
Naik Motor
Motor cocok untuk traveler yang sudah terbiasa berkendara di Bali dan ingin fleksibel. Namun, pastikan kondisi motor baik, gunakan helm, dan jangan memaksakan diri jika rute terlalu jauh.
Sewa Mobil dengan Sopir
Untuk keluarga atau grup kecil, sewa mobil dengan sopir biasanya lebih nyaman. Sopir lokal juga bisa membantu menyusun rute dan memberi saran tempat makan atau destinasi tambahan.
Ikut Tur Lokal
Beberapa desa wisata menyediakan paket tur lokal. Ini bisa menjadi pilihan terbaik jika kamu ingin mendapatkan penjelasan budaya yang lebih lengkap.
Tips Transportasi
- Gunakan Google Maps, tetapi tetap tanyakan warga jika rute terasa membingungkan.
- Berangkat pagi agar tidak terburu-buru.
- Isi bensin sebelum masuk area desa atau pegunungan.
- Siapkan uang tunai untuk parkir, tiket, donasi, atau belanja kecil.
Untuk melengkapi rencana perjalanan, kamu juga bisa membaca pasar tradisional tempat beli oleh-oleh di Bali agar bisa mampir belanja produk lokal setelah mengunjungi desa adat.
Barang yang Sebaiknya Dibawa Saat Mengunjungi Desa Adat
Wisata desa adat biasanya melibatkan banyak aktivitas jalan kaki, interaksi dengan warga, dan kunjungan ke area terbuka. Jadi, bawalah barang seperlunya agar perjalanan tetap nyaman.
Checklist Barang Bawaan
- Pakaian sopan dan nyaman.
- Kain atau selendang jika berencana masuk area pura.
- Topi atau payung kecil.
- Botol minum.
- Uang tunai.
- Kamera atau ponsel.
- Tas kecil yang ringan.
- Sandal atau sepatu yang nyaman untuk berjalan.
Jangan Membawa Barang Terlalu Banyak
Desa adat lebih enak dinikmati dengan berjalan santai. Jika membawa terlalu banyak barang, kamu akan cepat lelah dan kurang menikmati suasana. Bawa seperlunya saja.
Pertanyaan Umum tentang Desa Adat di Bali
Desa Adat di Bali yang Paling Terkenal Apa?
Desa Penglipuran dan Desa Tenganan Pegringsingan termasuk yang paling terkenal. Penglipuran dikenal karena kebersihan dan tata ruangnya, sementara Tenganan dikenal sebagai desa Bali Aga dengan tradisi kuno dan kain Gringsing.
Apakah Bisa Menginap di Desa Adat Bali?
Bisa, beberapa desa wisata menyediakan homestay atau akomodasi berbasis masyarakat. Penglipuran, Budakeling, Jasri, dan Blimbingsari termasuk desa yang dikenal memiliki pengalaman menginap atau wisata berbasis komunitas.
Apakah Desa Adat Cocok untuk Anak-anak?
Cocok, selama anak-anak diawasi dan diajarkan untuk menghormati aturan lokal. Desa seperti Penglipuran bisa menjadi pilihan yang ramah untuk keluarga karena lingkungannya tertata dan nyaman untuk berjalan kaki.
Apakah Boleh Memotret di Desa Adat?
Umumnya boleh, tetapi tetap minta izin jika ingin memotret orang, rumah warga, atau aktivitas adat tertentu. Jangan mengambil foto di area yang dilarang.
Apakah Harus Membayar Tiket Masuk?
Beberapa desa wisata menerapkan tiket masuk, donasi, atau biaya paket wisata. Tarif bisa berubah sewaktu-waktu, jadi sebaiknya cek informasi terbaru sebelum datang.
Kapan Waktu Terbaik Berkunjung?
Pagi hari biasanya paling nyaman karena udara masih sejuk dan suasana belum terlalu ramai. Hindari datang terlalu sore jika lokasi desa cukup jauh dari tempat menginap.
Kesimpulan
Mengunjungi desa adat di Bali adalah cara terbaik untuk mengenal Pulau Dewata dari sisi yang lebih dalam. Kamu tidak hanya melihat pemandangan, tetapi juga belajar tentang tradisi, tata ruang, arsitektur, kerajinan, spiritualitas, dan kehidupan masyarakat lokal.
Penglipuran cocok untuk kamu yang ingin melihat desa bersih dengan tata ruang rapi. Budakeling menarik untuk wisata budaya dan kerajinan. Jasri menawarkan aktivitas lengkap dari budaya hingga alam. Tenganan Pegringsingan adalah pilihan tepat untuk mengenal desa Bali Aga dan kain Gringsing. Sementara Blimbingsari memberi pengalaman berbeda lewat wisata rohani dan akulturasi budaya Bali-Kristen.
Mana pun desa yang kamu pilih, datanglah dengan sikap hormat. Jaga kebersihan, ikuti aturan lokal, beli produk warga jika memungkinkan, dan jangan hanya datang untuk foto. Dengan begitu, liburanmu bukan hanya menyenangkan, tetapi juga ikut mendukung pariwisata berbasis komunitas di Bali.
Untuk menambah referensi liburan, baca juga tempat wisata baru di Bali, wisata kuliner Bali Utara, dan makna Canang Sari di Bali agar perjalananmu makin kaya cerita.
Referensi Eksternal
- Penglipuran Village – Situs Resmi Desa Adat Penglipuran
- Love Bali – Penglipuran Village
- Jadesta Kemenparekraf – Desa Wisata Tenganan Pegringsingan
- Indonesia Travel – Desa Wisata Tenganan Pegringsingan
- Invest Bali – Desa Wisata Budakeling
- Desa Wisata Jasri – Situs Resmi
- Jadesta Kemenparekraf – Desa Wisata Jasri
- Jadesta Kemenparekraf – Desa Wisata Blimbingsari
- Desa Wisata Blimbingsari – Situs Resmi
- Tiket.com – Shallom Homestay by Desa Wisata Blimbingsari