Uniknya Tradisi Mekotekan Di Bali Yang Perlu Kamu Tahu!

By | January 16, 2020
Kamu tahu tradisi Mekotekan Di Bali? Mungkin iya, mungkin kamu hanya tahu menyusuri pantai – pantai di bali, mencoba kuliner bali yang enak, berbelanja oleh – oleh khas Bali. Ya tiga hal itulah yang paling sering dilakukan wisatawan ketika liburan ke Bali. Memang sih, 3 hal tadi adalah kegiatan yang asik ketika liburan.
Namun tahukah kamu seminggu setelah hari raya Galungan, umat Hindu merayakan hari raya Kuningan. Namun ada yang berbeda di Desa Munggu, Kabupaten Mengwi, Bali dalam menyambut hari raya Kuningan.
Tradisi Mekotekan adalah tradisi untuk menolak bala dengan tujuan meminta keselamatan. Tentunya tradisi ini merupakan warisan leluhur secara turun temurun oleh umat Hindu di Bali. Tradisi ini digelar setiap 6 bulan sekali atau 210 hari berdasarkan kalender Bali atau jatuh pada hari Sabtu Kliwon Kuningan.

Uniknya Tradisi Mekotekan Di Bali Yang Perlu Kamu Tahu!

Masih mau tahu lebih lanjut mengenai tradisi Mekotekan di Bali? Simak ulasannya berikut ini ya!

Uniknya Tradisi Mekotekan Di Bali

Bagaimana tradisi ini dijalankan?

Tradisi ini diikuti oleh laki-laki, mulai usai 12 – 60 tahun di Desa Munggu. Mereka yang berpartisipasi total sekitar ratusan dari jumlah banjar yang ada di Desa Munggu. Kemudian, akan dikelompokkan kembali dengan setiap kelompok terdiri dari 50 orang.

Tiap kelompok wajib membawa tongkat kayu yang sudah dikupas kulitnya, tingginya sekitar 2-3, 5 meter. Tongkat kayu yang dibawa tersebut akan disusun membentuk piramida atau kerucut oleh para peserta yang sudah membentuk lingkaran. Ketika kayu-kayu disatukan timbulah bunyi tek tek tek.

Uniknya Tradisi Mekotekan Di Bali

Sebelum upacara di mulai, para peserta wajib mengenakan pakaian adat dan berkumpul di pura desa untuk melakukan persembahayangan agar upacara berjalan dengan lancar. Setelah itu, para peserta dibagi menjadi dua kelompok untuk saling melawan. Jika merasa tertantang, salah satu peserta akan naik dan berdiri diujung kumpulan kayu dan memberi komando kepada tim untuk menabrak kumpulan lawan.

Uniknya Tradisi Mekotekan Di Bali

Bisa jadi gunungan kayu roboh atau malah berantakan bahkan pemuda yang meberi komando terjatuh di atas kayu. Meskipun berbahaya, banyak peserta yang ingin menaiki gunungan tongkat kayu tersebut. Selama tradisi berlangsung para peserta diiringi dengan gamelan sebagai penyemangat.

Ingin melihat secara langsung seperti apa tradisi Mekotekan? Datang saja ke Desa Munggu pada 17 September 2016.

Comments

comments