Perayaan Galungan dan Kuningan di Bali

Ketika Hari Raya Galungan semakin dekat, suasana Bali perlahan berubah.

Penjor mulai berdiri di depan rumah.

Janur dirangkai menjadi hiasan yang rumit.

Keluarga menyiapkan banten.

Jalan-jalan desa dipenuhi warga yang mengenakan pakaian adat untuk melakukan persembahyangan.

Bagi wisatawan, pemandangan tersebut mungkin terlihat seperti sebuah festival budaya yang sangat meriah.

Namun, bagi umat Hindu, Galungan dan Kuningan merupakan rangkaian hari suci yang mempunyai makna spiritual mendalam.

Galungan menjadi momentum untuk meneguhkan kemenangan dharma atau kebenaran atas adharma, yaitu sifat dan tindakan yang menjauhkan manusia dari jalan kebaikan.

Sepuluh hari kemudian, rangkaian tersebut mencapai Hari Raya Kuningan.

Perayaan ini tidak hanya berlangsung di pura besar atau kawasan wisata.

Rangkaian Galungan dan Kuningan juga terasa di:

  • rumah keluarga;
  • pura keluarga;
  • banjar;
  • desa adat;
  • tempat kerja;
  • sekolah;
  • ruang kehidupan masyarakat Bali sehari-hari.

Karena itu, wisatawan yang kebetulan berlibur pada periode tersebut perlu memahami bahwa mereka sedang berada di tengah perayaan keagamaan, bukan sekadar atraksi untuk difoto.

Berikut pembahasan lengkap mengenai perayaan Galungan dan Kuningan di Bali, mulai dari makna, kalender, rangkaian hari suci, penjor, tradisi keluarga, sampai etika yang perlu diperhatikan wisatawan.

Apa Itu Hari Raya Galungan dan Kuningan?

Galungan dan Kuningan merupakan rangkaian hari suci umat Hindu yang dirayakan berdasarkan kalender Pawukon.

Satu siklus Pawukon berlangsung selama 210 hari.

Karena tidak mengikuti kalender Masehi yang berjumlah 365 atau 366 hari, tanggal Galungan dan Kuningan terus bergeser setiap tahunnya.

Apa Itu Hari Raya Galungan dan Kuningan?

Hari Raya Galungan

Galungan diperingati pada Buda Kliwon Wuku Dungulan.

Hari ini dimaknai sebagai momentum kemenangan dan peneguhan dharma melawan adharma.

Namun, makna “kemenangan” tersebut tidak hanya berkaitan dengan pertarungan antara kebaikan dan kejahatan di luar diri manusia.

Galungan juga mengajak umat untuk mengendalikan sifat-sifat buruk yang muncul dari dalam diri, seperti:

  • keserakahan;
  • kemarahan;
  • kesombongan;
  • iri hati;
  • ketidakjujuran;
  • keinginan merugikan orang lain.

Hari Raya Kuningan

Kuningan diperingati pada Saniscara Kliwon Wuku Kuningan, tepat sepuluh hari setelah Galungan.

Hari ini menjadi bagian penutup dari periode utama perayaan Galungan–Kuningan.

Dalam tradisi Hindu Bali, rangkaian tersebut juga berkaitan dengan penghormatan kepada leluhur dan permohonan keselamatan, kedamaian, kemakmuran, serta tuntunan spiritual.

Kapan Galungan dan Kuningan Dirayakan?

Galungan tidak mempunyai tanggal Masehi yang tetap.

Perayaannya berulang setiap 210 hari berdasarkan siklus Pawukon.

Karena itu, pernyataan bahwa Galungan selalu dirayakan tepat dua kali dalam satu tahun Masehi kurang tepat.

Dalam tahun tertentu dapat terdapat dua periode Galungan.

Namun, dalam tahun Masehi lainnya hanya terdapat satu periode, tergantung posisi siklus 210 harinya.

Jadwal Galungan dan Kuningan Tahun 2026

Berdasarkan daftar hari raya Hindu yang diterbitkan Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Hindu Kementerian Agama, rangkaian utama pada 2026 adalah:

Hari dan Tanggal
Perayaan
Selasa, 16 Juni 2026
Penampahan Galungan
Rabu, 17 Juni 2026
Hari Raya Galungan
Kamis, 18 Juni 2026
Umanis Galungan
Jumat, 26 Juni 2026
Penampahan Kuningan
Sabtu, 27 Juni 2026
Hari Raya Kuningan

Jadwal tahun berikutnya perlu diperiksa melalui kalender resmi terbaru karena tanggal Masehinya akan berubah.

Tips Lapakfjbku.com: Kalau ingin merencanakan perjalanan khusus untuk menyaksikan suasana Galungan, jangan hanya menggunakan kalender lama. Periksa jadwal resmi Kementerian Agama atau pemerintah Bali sebelum membeli tiket dan memesan hotel.

Kapan Galungan dan Kuningan Dirayakan?

Makna Galungan bagi Umat Hindu

Galungan sering disederhanakan sebagai perayaan kemenangan kebaikan melawan kejahatan.

Penjelasan tersebut memang mudah dipahami, tetapi makna spiritualnya lebih luas.

Meneguhkan Dharma dalam Kehidupan

Dharma dapat dipahami sebagai jalan kebenaran, kewajiban, kebajikan, dan tata kehidupan yang selaras.

Merayakan Galungan berarti mengingatkan manusia agar:

  • berpikir dengan baik;
  • berbicara dengan benar;
  • bertindak secara bertanggung jawab;
  • mengendalikan keinginan yang merugikan;
  • menjaga hubungan dengan Tuhan, manusia, dan alam.

Kemenangan Bukan Sekadar Perayaan

Kemenangan dharma tidak cukup ditunjukkan melalui pakaian adat, penjor, atau makanan perayaan.

Nilai tersebut perlu dilanjutkan dalam kehidupan setelah hari raya selesai.

Contohnya melalui:

  • kejujuran dalam bekerja;
  • kepedulian terhadap keluarga;
  • menghormati orang lain;
  • menjaga kebersihan lingkungan;
  • menghindari tindakan yang merugikan masyarakat.

Penghormatan kepada Leluhur

Dalam tradisi Hindu Bali, Galungan juga menjadi periode penting untuk menghormati leluhur.

Keluarga melakukan persembahyangan dan menyiapkan persembahan di rumah maupun tempat suci keluarga.

Rangkaian dan bentuk persembahan dapat berbeda sesuai tradisi keluarga serta desa adat.

Untuk memahami salah satu bentuk persembahan yang sering terlihat dalam kehidupan umat Hindu Bali, baca juga penjelasan mengenai isi dan makna Canang Sari.

Rangkaian Perayaan Menjelang Galungan

Rangkaian Perayaan Menjelang Galungan

Persiapan Galungan tidak hanya berlangsung pada tiga hari terakhir.

Rangkaian spiritualnya telah dimulai lebih awal.

Nama, pelaksanaan, dan penekanannya bisa mempunyai variasi di setiap desa adat.

1. Sugihan Jawa

Sugihan Jawa berlangsung beberapa hari sebelum Galungan.

Dalam penjelasan keagamaan, rangkaian ini berkaitan dengan penyucian atau pemulihan keharmonisan alam beserta lingkungan tempat kehidupan berlangsung.

Kata “Jawa” dalam konteks ini tidak semata-mata merujuk pada Pulau Jawa.

Rangkaian tersebut sering dijelaskan berkaitan dengan jaba atau bagian luar, yaitu lingkungan dan alam di luar diri manusia.

Kegiatan yang Dapat Dilakukan

Pelaksanaannya dapat mencakup:

  • membersihkan tempat suci;
  • menata lingkungan rumah;
  • menyiapkan sarana persembahyangan;
  • melakukan penyucian sesuai tradisi setempat.
BACA JUGA :  Situ Patenggang, Destinasi Wisata dengan Mitos Menguatkan Cinta

2. Sugihan Bali

Sugihan Bali dilaksanakan sehari setelah Sugihan Jawa.

Kalau Sugihan Jawa berkaitan dengan penyucian bagian luar, Sugihan Bali lebih sering dimaknai sebagai penyucian diri atau buana alit.

Umat diajak untuk membersihkan:

  • pikiran;
  • perkataan;
  • perbuatan;
  • niat menjelang hari suci.

Dengan demikian, persiapan Galungan tidak hanya berhubungan dengan dekorasi dan makanan.

Persiapan batin justru menjadi bagian yang sangat penting.

3. Hari Penyekeban atau Penyekenan

Penyekeban berlangsung pada Minggu Pahing Wuku Dungulan.

Dalam kehidupan rumah tangga tradisional, istilah nyekeb juga berkaitan dengan proses memeram atau menyimpan buah agar matang.

Secara filosofis, hari ini kerap dikaitkan dengan upaya mengendalikan dan mematangkan diri.

Makna Pengendalian Diri

Menjelang hari raya, umat diingatkan agar tidak mudah dikuasai oleh:

  • emosi;
  • keserakahan;
  • pertengkaran;
  • perilaku berlebihan;
  • keinginan yang tidak terkendali.

4. Hari Penyajaan

Penyajaan berlangsung sehari setelah Penyekeban.

Nama hari tersebut berkaitan dengan kegiatan menyiapkan jaja atau berbagai jenis makanan dan sarana persembahan.

Di sejumlah keluarga, dapur mulai lebih sibuk karena berbagai kebutuhan hari raya disiapkan bersama.

Bukan Hanya Membuat Jajanan

Secara spiritual, Penyajaan juga mengingatkan umat untuk semakin memantapkan niat menjelang Galungan.

Kegiatan bersama keluarga menjadi bagian dari:

  • gotong royong;
  • pewarisan keterampilan;
  • penguatan hubungan antargenerasi;
  • persiapan persembahan.

5. Penampahan Galungan

Penampahan Galungan berlangsung sehari sebelum Galungan.

Hari ini menjadi salah satu periode persiapan yang paling sibuk.

Keluarga menyiapkan makanan, persembahan, membersihkan lingkungan, dan menyelesaikan pemasangan penjor.

Makna Kata Penampahan

Penampahan sering dikaitkan dengan kegiatan nampah atau penyembelihan hewan.

Dalam pemaknaan spiritual, kegiatan tersebut juga menjadi simbol mengendalikan sifat-sifat hewani atau kecenderungan buruk dalam diri manusia.

Namun, praktiknya tidak boleh digeneralisasi.

Tidak semua keluarga melakukan persiapan dengan bentuk yang sama.

Jenis makanan, hewan yang digunakan, serta susunan persembahan mengikuti kemampuan keluarga dan tradisi setempat.

Pemasangan Penjor

Penjor Galungan umumnya mulai ditegakkan menjelang hari raya, terutama pada Penampahan Galungan.

Penjor dipasang di depan rumah dengan posisi dan rangkaian tertentu sesuai tradisi.

Wisatawan tidak boleh memindahkan, menyentuh, atau menarik hiasannya hanya demi mendapatkan foto.

Hari Raya Galungan

Pada Hari Raya Galungan, kegiatan biasanya dimulai sejak pagi.

Umat mengenakan pakaian adat dan melakukan persembahyangan di:

  • merajan atau sanggah keluarga;
  • pura lingkungan;
  • pura desa;
  • tempat suci lain yang mempunyai hubungan dengan keluarga.

Persembahyangan Keluarga

Persembahyangan di rumah menjadi bagian penting karena rumah tradisional Bali mempunyai area suci keluarga.

Setelah itu, keluarga dapat melanjutkan persembahyangan ke pura atau tempat suci lainnya.

Pulang ke Kampung Halaman

Galungan juga menjadi waktu ketika sebagian masyarakat yang tinggal atau bekerja di daerah lain kembali ke kampung halaman.

Mereka berkumpul dengan keluarga serta melakukan persembahyangan bersama.

Suasananya sekilas mirip tradisi mudik pada hari raya lain.

Namun, tujuan utama dan rangkaian ritualnya tentu mengikuti ajaran serta adat Hindu Bali.

Persembahan untuk Leluhur

Bentuk penghormatan kepada leluhur mengikuti kondisi dan tradisi keluarga.

Beberapa keluarga dapat melakukan persembahyangan atau membawa persembahan ke tempat yang berkaitan dengan leluhur.

Wisatawan sebaiknya tidak memasuki area tersebut tanpa undangan atau izin.

Umanis Galungan

Umanis Galungan berlangsung sehari setelah Galungan.

Setelah rangkaian persembahyangan utama, hari ini sering dimanfaatkan untuk:

  • mengunjungi keluarga;
  • bersilaturahmi;
  • beristirahat;
  • melakukan rekreasi bersama.

Karena banyak keluarga bepergian, sejumlah tempat wisata dan jalan utama dapat terasa lebih ramai daripada biasanya.

Wisatawan yang bepergian bersama anak dapat mempertimbangkan beberapa tempat wisata Bali yang ramah anak, tetapi tetap periksa jam buka selama periode hari raya.

Rangkaian Menuju Hari Raya Kuningan

Galungan dan Kuningan tidak berdiri sebagai dua perayaan yang sepenuhnya terpisah.

Kuningan menjadi bagian penting yang menutup periode utama setelah Galungan.

Pemacekan Agung

Beberapa hari setelah Galungan terdapat Pemacekan Agung.

Hari ini berkaitan dengan upaya memantapkan atau meneguhkan kembali kemenangan dharma.

Pelaksanaan ritual serta persembahannya mengikuti tradisi masing-masing komunitas.

Penampahan Kuningan

Penampahan Kuningan berlangsung sehari sebelum Hari Raya Kuningan.

Keluarga kembali menyiapkan:

  • makanan;
  • banten;
  • sarana persembahyangan;
  • kebersihan tempat suci;
  • kebutuhan keluarga untuk esok hari.

Hari Raya Kuningan

Kuningan berlangsung sepuluh hari setelah Galungan.

Hari ini menjadi momentum untuk memohon keselamatan, kesejahteraan, perlindungan, dan kekuatan agar umat tetap menjalankan dharma.

Mengapa Disebut Kuningan?

Kuningan sering dikaitkan dengan warna kuning yang menjadi simbol:

  • kemuliaan;
  • kesejahteraan;
  • kemakmuran;
  • kebahagiaan;
  • anugerah kehidupan.

Nasi berwarna kuning juga umum dijumpai dalam persembahan Kuningan.

Namun, susunan banten dan simbol yang digunakan dapat berbeda berdasarkan tradisi keluarga serta desa adat.

Persembahyangan Dilakukan pada Pagi Hari

Dalam banyak tradisi Bali, persembahyangan Kuningan diselesaikan pada pagi hari atau sebelum tengah hari.

Penjelasan filosofis dan aturan waktunya perlu mengikuti arahan pemangku, sulinggih, keluarga, atau desa adat setempat.

Wisatawan sebaiknya tidak memperlakukan batas waktu tersebut sebagai alasan untuk mengejar atau memotret prosesi secara terburu-buru.

Tamiang dan Endongan

Dua unsur yang sering terlihat pada Hari Kuningan adalah tamiang dan endongan.

Tamiang

Tamiang berbentuk menyerupai perisai bundar dan sering dimaknai sebagai simbol perlindungan.

Endongan

Endongan menyerupai wadah atau bekal.

Unsur ini mempunyai makna yang berkaitan dengan bekal kehidupan dan perjalanan spiritual.

Makna simboliknya dapat mempunyai penjelasan yang lebih khusus sesuai tradisi keagamaan masing-masing daerah.

Apa Itu Penjor Galungan?

Penjor merupakan bambu tinggi yang melengkung dan dihiasi berbagai bahan alami serta perlengkapan upacara.

Penjor menjadi salah satu pemandangan yang paling mudah dikenali selama Galungan dan Kuningan.

Bahan yang Digunakan

Penjor dapat memanfaatkan:

  • bambu;
  • janur atau daun kelapa muda;
  • daun-daunan;
  • hasil pertanian;
  • kain;
  • hiasan anyaman;
  • sampian;
  • persembahan di bagian bawah.

Makna Penjor

Penjor bukan sekadar dekorasi jalan.

Secara umum, penjor berkaitan dengan rasa syukur atas kemakmuran dan anugerah kehidupan.

Bentuk melengkung serta unsur yang digunakan di dalamnya juga mempunyai berbagai penjelasan filosofis dalam tradisi Hindu Bali.

BACA JUGA :  10 Tempat Buka Puasa Di Jakarta Selatan Ini Asyiknya Kebangetan

Penafsiran terhadap setiap bagian dapat berbeda berdasarkan sumber ajaran dan tradisi lokal.

Penjor Upacara dan Penjor Dekorasi

Tidak setiap bambu berhias yang terlihat di Bali mempunyai fungsi yang sama.

Ada penjor yang dibuat untuk keperluan upacara.

Ada pula dekorasi yang menyerupai penjor untuk hotel, restoran, pesta, atau promosi.

Wisatawan perlu memperlakukan penjor upacara sebagai bagian dari sarana keagamaan.

Perbedaan Galungan dan Kuningan

Aspek
Galungan
Kuningan
Waktu
Buda Kliwon Dungulan
Saniscara Kliwon Kuningan
Jarak perayaan
Hari utama pertama
Sepuluh hari setelah Galungan
Makna utama
Peneguhan kemenangan dharma atas adharma
Penutup rangkaian dan permohonan keselamatan serta kesejahteraan
Suasana
Persembahyangan keluarga dan pura sejak pagi
Persembahyangan umumnya berlangsung pada pagi hari
Simbol yang menonjol
Penjor dan banten Galungan
Nasi kuning, tamiang, endongan, dan banten Kuningan

Tradisi Galungan Tidak Selalu Sama di Seluruh Bali

Bali mempunyai banyak desa adat dengan aturan, kebiasaan, dan tradisi yang khas.

Karena itu, bentuk perayaan di satu desa belum tentu sama persis dengan desa lainnya.

Perbedaannya dapat terlihat dari:

  • bentuk persembahan;
  • rangkaian prosesi;
  • makanan;
  • busana;
  • tradisi kesenian;
  • waktu persembahyangan;
  • aturan memasuki pura.

Perbedaan tersebut bukan berarti salah satu tradisi lebih benar daripada yang lain.

Masyarakat menjalankan perayaan berdasarkan ajaran, dresta, dan aturan adat yang mereka warisi.

Wisatawan yang ingin mengenal kehidupan masyarakat lokal dapat membaca referensi mengenai sistem dan urutan nama orang Bali agar tidak salah memahami cara masyarakat memperkenalkan diri.

Apakah Wisatawan Boleh Menyaksikan Galungan dan Kuningan?

Boleh menyaksikan suasana di ruang publik selama tidak mengganggu kegiatan masyarakat.

Namun, tidak semua prosesi terbuka bagi wisatawan.

Beberapa tempat suci atau ritual hanya boleh diikuti oleh:

  • umat yang bersembahyang;
  • anggota keluarga;
  • krama desa;
  • orang yang memperoleh izin.

Tempat yang Relatif Mudah untuk Menikmati Suasana

Wisatawan dapat melihat penjor dan aktivitas masyarakat dari jalan umum di:

  • desa-desa di Gianyar;
  • Bangli;
  • Karangasem;
  • Tabanan;
  • Buleleng;
  • kawasan permukiman di sekitar Denpasar dan Badung.

Jangan memasuki halaman rumah atau tempat suci hanya karena pintunya terbuka.

Minta izin terlebih dahulu.

Untuk memperluas perjalanan budaya, kamu bisa menjelajahi tempat wisata menarik di Bali Timur atau sejumlah destinasi wisata di Bali Utara.

Etika Menyaksikan Perayaan Galungan dan Kuningan

1. Hormati Pura dan Tempat Suci

Jangan masuk ke area pura tanpa memastikan bahwa pengunjung memang diperbolehkan masuk.

Ikuti:

  • papan informasi;
  • arahan petugas;
  • aturan pengempon pura;
  • ketentuan desa adat.

2. Kenakan Pakaian yang Sopan

Saat mengunjungi pura, pengunjung biasanya perlu memakai kain dan selendang.

Aturan dapat berbeda pada setiap pura.

Pakaian pantai tidak pantas digunakan untuk memasuki tempat suci atau mendekati prosesi keagamaan.

3. Jangan Menghalangi Orang yang Bersembahyang

Hindari berdiri:

  • di depan pintu pura;
  • di tengah jalur prosesi;
  • di depan orang yang sedang berdoa;
  • di lokasi penempatan banten.

4. Minta Izin Sebelum Memotret

Jangan berasumsi bahwa seluruh prosesi boleh difoto.

Minta izin saat ingin mengambil:

  • foto jarak dekat;
  • potret anak-anak;
  • persembahyangan;
  • area dalam pura;
  • keluarga di halaman rumah.

5. Jangan Menggunakan Flash

Flash dapat mengganggu konsentrasi dan suasana sakral.

Matikan suara kamera jika memungkinkan.

6. Jangan Melangkahi Banten

Persembahan dapat diletakkan di:

  • trotoar;
  • pintu masuk;
  • depan toko;
  • halaman;
  • tepi jalan.

Perhatikan langkah agar tidak menginjak atau melangkahinya.

7. Jangan Menyentuh Penjor

Penjor bukan properti foto.

Jangan:

  • menarik hiasannya;
  • memanjat bambu;
  • bersandar terlalu kuat;
  • mengambil bagian hiasan;
  • memindahkannya agar komposisi foto terlihat lebih bagus.

8. Gunakan Drone dengan Sangat Hati-Hati

Penerbangan drone dapat mengganggu prosesi, melanggar privasi, dan membahayakan penjor atau bangunan.

Jangan menerbangkan drone di atas pura, kerumunan, atau prosesi tanpa izin resmi.

Tips Liburan ke Bali saat Galungan dan Kuningan

1. Periksa Jam Operasional

Beberapa usaha dapat:

  • tutup;
  • buka lebih siang;
  • tutup lebih awal;
  • mengurangi jumlah staf.

Hubungi hotel, restoran, penyewaan kendaraan, dan tempat wisata sebelum datang.

Kalau membutuhkan pilihan tempat makan, simpan daftar restoran di Bali yang menarik untuk dikunjungi.

2. Antisipasi Lalu Lintas

Jalan desa dapat lebih ramai karena:

  • persembahyangan;
  • kunjungan keluarga;
  • prosesi;
  • kendaraan parkir;
  • penjor yang membuat ruang jalan terasa lebih sempit.

Berangkat lebih awal dan jangan membunyikan klakson secara berlebihan saat melewati prosesi.

3. Jangan Membuat Itinerary Terlalu Padat

Berikan waktu tambahan karena perjalanan dapat berlangsung lebih lambat.

Pilih satu kawasan untuk dijelajahi daripada berpindah dari ujung selatan menuju utara dalam satu hari.

4. Gunakan Transportasi yang Sesuai

Sewa mobil dengan pengemudi lokal bisa membantu wisatawan memahami kondisi jalan dan aturan setempat.

Untuk kawasan wisata selatan, kamu dapat membaca panduan cara menuju Pantai Kuta dan pilihan transportasinya.

5. Siapkan Uang Tunai

Beberapa warung kecil, parkir, atau pasar tradisional masih lebih mudah menggunakan pembayaran tunai.

Kalau ingin membeli buah, jajanan, atau kerajinan lokal, kunjungi salah satu pasar tradisional untuk membeli oleh-oleh di Bali.

6. Nikmati Suasananya Tanpa Terburu-Buru

Galungan bukan daftar atraksi yang harus diselesaikan.

Jalan perlahan.

Perhatikan penjor.

Nikmati suasana desa.

Dengarkan penjelasan warga atau pemandu lokal tanpa memaksakan diri memasuki prosesi.

Ide Itinerary Budaya saat Galungan

Pagi Hari

  • Menikmati suasana penjor di sekitar penginapan.
  • Sarapan dan mengamati aktivitas masyarakat dari ruang publik.
  • Mengunjungi tempat budaya yang tetap buka.

Siang Hari

  • Makan di restoran lokal.
  • Mengunjungi museum atau galeri.
  • Beristirahat karena beberapa aktivitas masyarakat berlangsung sejak pagi.

Sore Hari

  • Berjalan di kawasan desa atau persawahan.
  • Mengunjungi pasar.
  • Menikmati pantai tanpa mengganggu kegiatan warga.

Untuk alternatif kegiatan, lihat beberapa tempat wisata baru di Bali.

Kalau menginap di kawasan Canggu, perjalanan dapat ditutup dengan mengunjungi salah satu tempat nongkrong di Canggu.

Kuliner saat Galungan dan Kuningan

Periode hari raya juga berkaitan dengan berbagai kegiatan memasak di dalam keluarga.

Jenis makanan yang disiapkan berbeda berdasarkan keluarga, daerah, kemampuan, serta tradisi.

BACA JUGA :  Liburan Ke Vietnam? Kunjungi 9 Tempat Wisata di Teluk Ha Long Yang Keren Ini!

Wisatawan mungkin menjumpai berbagai olahan seperti:

  • lawar;
  • sate;
  • urutan;
  • nasi kuning;
  • jaja Bali;
  • hidangan berbahan hasil kebun dan pertanian.

Namun, makanan yang berada di area persembahan tidak boleh diambil.

Kalau ingin mencicipi makanan Bali, belilah dari warung, restoran, atau pasar.

Wisatawan yang menjelajah bagian barat pulau dapat menggunakan daftar kuliner khas Bali Barat yang patut dicoba.

Apakah Galungan Sama dengan Nyepi?

Tidak.

Keduanya merupakan hari suci Hindu, tetapi mempunyai waktu, makna, dan tata pelaksanaan yang berbeda.

Galungan dan Kuningan

  • Mengikuti siklus Pawukon 210 hari.
  • Suasana jalan dihiasi penjor.
  • Terdapat persembahyangan, kunjungan keluarga, dan aktivitas sosial.
  • Transportasi serta usaha masih dapat beroperasi dengan penyesuaian.

Nyepi

  • Menandai Tahun Baru Saka.
  • Umat melaksanakan Catur Brata Penyepian.
  • Aktivitas publik di Bali berhenti selama periode Nyepi.
  • Bandara dan sebagian besar transportasi tidak beroperasi untuk perjalanan reguler.

Jadi, wisatawan tidak perlu beranggapan bahwa Bali akan benar-benar berhenti beraktivitas selama Galungan seperti pada Nyepi.

Tempat Lain untuk Mengenal Budaya Bali

Memahami Galungan dan Kuningan akan lebih lengkap jika wisatawan juga mengenal kehidupan masyarakat Bali di luar kawasan pantai.

Desa dan Kawasan Tradisional

Desa adat menjaga berbagai aturan, ruang suci, kegiatan sosial, dan tradisi lokal.

Masuklah sebagai tamu dan ikuti seluruh petunjuk masyarakat.

Nusa Ceningan

Pulau-pulau kecil di sekitar Bali juga mempunyai kehidupan masyarakat dan tempat suci yang perlu dihormati.

Sebelum berangkat, baca panduan liburan ke Nusa Ceningan.

Lokasi Foto di Bali

Bali mempunyai banyak latar yang indah, tetapi tempat suci dan prosesi bukan studio foto bebas.

Untuk pemotretan yang direncanakan secara profesional, pilih lokasi yang memang memperbolehkannya melalui daftar lokasi foto prewedding di Bali.

Kesalahan Wisatawan saat Menyaksikan Upacara

1. Menganggap Semua Prosesi sebagai Pertunjukan

Upacara tetap merupakan kegiatan keagamaan meskipun terlihat menarik secara visual.

2. Mengambil Foto Tanpa Izin

Tidak semua orang nyaman dipotret ketika berdoa atau bersama keluarga.

3. Masuk ke Area Suci

Pintu terbuka tidak selalu berarti wisatawan bebas masuk.

4. Menggunakan Pakaian Pantai

Sesuaikan pakaian ketika berada dekat pura atau prosesi.

5. Menyentuh Sarana Upacara

Jangan memegang penjor, banten, tamiang, atau hiasan upacara.

6. Berbicara Terlalu Keras

Kurangi suara dan jangan memutar musik keras ketika melewati persembahyangan.

7. Memaksa Warga Menjelaskan Semua Hal

Tidak setiap warga sedang mempunyai waktu untuk menjadi pemandu wisata.

Tanyakan secara sopan atau gunakan jasa pemandu lokal.

FAQ Galungan dan Kuningan

Apa makna Hari Raya Galungan?

Galungan dimaknai sebagai kemenangan dan peneguhan dharma atas adharma, termasuk upaya mengendalikan sifat buruk dalam diri manusia.

Kapan Galungan dirayakan?

Galungan dirayakan setiap Buda Kliwon Wuku Dungulan berdasarkan siklus Pawukon yang berlangsung selama 210 hari.

Apakah Galungan selalu dua kali dalam satu tahun?

Tidak selalu dalam satu tahun Masehi. Karena siklusnya 210 hari, dalam tahun tertentu dapat terdapat satu atau dua periode Galungan.

Berapa hari jarak Galungan dan Kuningan?

Kuningan berlangsung sepuluh hari setelah Galungan.

Apa perbedaan Galungan dan Kuningan?

Galungan menjadi hari utama untuk meneguhkan kemenangan dharma atas adharma, sedangkan Kuningan merupakan bagian penutup utama rangkaian sepuluh hari kemudian.

Apa itu Penampahan Galungan?

Penampahan merupakan hari persiapan sebelum Galungan. Keluarga menyiapkan makanan, persembahan, kebersihan tempat suci, serta penjor sesuai tradisi.

Apakah semua keluarga menyembelih babi?

Tidak bisa digeneralisasi. Bentuk persiapan, jenis makanan, persembahan, dan kemampuan setiap keluarga berbeda.

Mengapa ada penjor saat Galungan?

Penjor merupakan sarana upacara yang secara umum berkaitan dengan ungkapan syukur atas anugerah, kesuburan, dan kemakmuran.

Apakah penjor hanya dekorasi?

Tidak. Penjor Galungan mempunyai fungsi serta makna keagamaan. Wisatawan tidak boleh memperlakukannya sebagai dekorasi biasa.

Mengapa persembahyangan Kuningan dilakukan pagi hari?

Dalam banyak tradisi Bali, persembahyangan Kuningan diselesaikan pada pagi hari. Penjelasan dan aturan waktu mengikuti arahan pemuka agama serta desa adat setempat.

Apakah wisatawan boleh masuk pura saat Galungan?

Tergantung aturan pura. Minta izin, gunakan pakaian yang sesuai, dan jangan memasuki area yang dikhususkan bagi umat yang bersembahyang.

Apakah toko dan tempat wisata tutup saat Galungan?

Sebagian usaha tetap buka, tetapi jam operasional dan jumlah staf dapat berubah. Periksa langsung sebelum datang.

Apakah bandara Bali tutup saat Galungan?

Tidak seperti Nyepi, bandara tidak otomatis berhenti beroperasi pada Galungan. Jadwal penerbangan tetap perlu diperiksa melalui maskapai.

Apakah boleh memotret penjor?

Boleh memotret dari ruang publik selama tidak menyentuh, merusak, atau mengganggu jalan serta pemilik rumah.

Apa ucapan untuk Galungan dan Kuningan?

Salah satu ucapan yang umum digunakan adalah Rahajeng Rahina Galungan lan Kuningan. Gunakan dengan niat menghormati dan sesuaikan dengan konteks.

Kesimpulan

Perayaan Galungan dan Kuningan di Bali merupakan rangkaian hari suci yang jauh lebih dalam daripada deretan penjor dan suasana meriah di jalan.

Galungan mengajak umat Hindu meneguhkan dharma serta mengendalikan adharma, baik yang muncul dari lingkungan maupun dari dalam diri sendiri.

Rangkaian persiapannya mencakup beberapa hari penting, antara lain:

  • Sugihan Jawa;
  • Sugihan Bali;
  • Penyekeban;
  • Penyajaan;
  • Penampahan Galungan;
  • Hari Raya Galungan;
  • Umanis Galungan;
  • Pemacekan Agung;
  • Penampahan Kuningan;
  • Hari Raya Kuningan.

Kuningan berlangsung sepuluh hari setelah Galungan dan menjadi bagian penutup utama rangkaian tersebut.

Kedua hari suci mengikuti kalender Pawukon selama 210 hari sehingga tanggal Masehinya selalu berubah.

Wisatawan boleh menikmati suasana Galungan dari ruang publik.

Namun, tetap ingat bahwa Bali sedang menjalankan kegiatan keagamaan.

Jangan menghalangi prosesi.

Jangan memasuki tempat suci tanpa izin.

Jangan menginjak banten.

Jangan menyentuh penjor.

Dan jangan memotret persembahyangan hanya demi mendapatkan konten.

Dengan sikap yang tepat, perjalanan saat Galungan dan Kuningan bukan hanya menghasilkan foto yang indah.

Wisatawan juga dapat memperoleh pemahaman yang lebih utuh mengenai kehidupan, spiritualitas, dan budaya masyarakat Bali.

Referensi


Faisal

Faisal

Faisal Rahman adalah seorang blogger muda yang penuh semangat untuk berbagi ide, gagasan, dan pandangan melalui tulisannya. Ia memulai perjalanan blognya selama masa kuliah dan telah mengembangkan bakatnya dalam menulis konten menarik dan beragam.
https://lapakfjbku.com