Stres adalah bagian yang tidak bisa sepenuhnya dipisahkan dari kehidupan.
Kita bisa merasa stres ketika menghadapi ujian, memulai pekerjaan baru, mengalami masalah keuangan, bertengkar dengan pasangan, merawat anggota keluarga yang sakit, atau harus mengambil keputusan penting.
Dalam kadar yang masih bisa dikelola, stres dapat membuat seseorang lebih waspada, fokus, dan terdorong menyelesaikan masalah.
Namun, tekanan yang terlalu berat, berlangsung lama, dan terasa tidak terkendali dapat mulai mengganggu:
- konsentrasi;
- kualitas tidur;
- nafsu makan;
- hubungan dengan orang lain;
- prestasi sekolah;
- produktivitas kerja;
- kesehatan fisik dan mental.
Penyebab stres setiap orang tentu berbeda.
Masalah yang terasa ringan bagi seseorang bisa sangat membebani orang lain.
Begitu pula sebaliknya.
Karena itu, tidak ada ranking tunggal yang bisa memastikan bahwa satu masalah selalu menjadi penyebab stres terbesar bagi semua orang Indonesia.
Meski begitu, ada sejumlah pemicu yang terus muncul dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari tekanan akademik, perundungan, masalah keuangan, ketidakpastian pekerjaan, konflik keluarga, hingga kebiasaan membandingkan diri melalui media sosial.
Nah, berikut pembahasan lengkap mengenai penyebab stres yang paling sering dihadapi oleh orang Indonesia, dilihat dari masa sekolah, kuliah, memasuki dunia kerja, hingga menjalani kehidupan berkeluarga.
Daftar Isi Tulisan
Apa Itu Stres?
Stres adalah respons alami tubuh dan pikiran ketika seseorang menghadapi tekanan, perubahan, ancaman, atau situasi yang membutuhkan penyesuaian.
Respons tersebut sebenarnya membantu manusia menghadapi tantangan.
Ketika ada tenggat pekerjaan, misalnya, sedikit tekanan bisa mendorong seseorang lebih fokus dan segera menyelesaikannya.
Masalah mulai muncul ketika tekanan:
- terjadi terus-menerus;
- melebihi kemampuan untuk mengatasinya;
- tidak diikuti waktu pemulihan;
- mulai mengganggu fungsi sehari-hari.
Stres Bukan Berarti Seseorang Lemah
Mengalami stres bukan tanda bahwa seseorang kurang bersyukur, tidak tangguh, manja, atau tidak mampu menghadapi kehidupan.
Stres merupakan respons manusia yang normal.
Yang membedakan adalah:
- seberapa berat tekanannya;
- berapa lama berlangsung;
- dukungan yang tersedia;
- kondisi fisik dan mental sebelumnya;
- cara seseorang merespons masalah.
Stres Tidak Sama dengan Gangguan Mental
Stres sendiri bukan diagnosis gangguan mental.
Namun, stres yang berlangsung lama dapat memperburuk masalah kesehatan yang sudah ada dan berkaitan dengan munculnya gejala kecemasan atau depresi pada sebagian orang.
Karena itu, jangan mendiagnosis diri hanya berdasarkan satu atau dua gejala.
Jika keluhan menetap atau mulai mengganggu kehidupan, pemeriksaan oleh tenaga profesional merupakan langkah yang lebih tepat.

Seberapa Serius Masalah Kesehatan Mental di Indonesia?
Masalah stres dan kesehatan mental tidak hanya dialami orang dewasa.
Anak-anak dan remaja juga bisa menghadapi tekanan besar dari keluarga, pertemanan, pendidikan, serta lingkungan digital.
Program Cek Kesehatan Gratis periode 2025–2026 menemukan indikasi masalah kesehatan jiwa pada hampir 10% dari sekitar tujuh juta anak yang sudah menjalani skrining.
Temuan tersebut mencakup gejala kecemasan dan depresi yang memerlukan tindak lanjut, bukan berarti seluruh anak yang terdeteksi otomatis memiliki diagnosis gangguan mental.
Survei Kesehatan Indonesia 2023 juga menempatkan kesehatan jiwa anak muda sebagai salah satu tema penting yang memerlukan perhatian.
UNICEF mencatat Indonesia memiliki hampir 46 juta remaja dan masih menghadapi tantangan berupa gangguan kesehatan mental, stigma, kesenjangan akses pelayanan, serta risiko cedera dan kematian yang berkaitan dengan kesehatan remaja.
Artinya, masalah ini tidak cukup diselesaikan dengan mengatakan:
“Jangan terlalu dipikirkan.”
Lingkungan keluarga, sekolah, tempat kerja, fasilitas kesehatan, serta masyarakat juga perlu ikut menciptakan kondisi yang lebih aman.
Penyebab Stres pada Masa Sekolah
Masa sekolah sering dikenang sebagai periode yang menyenangkan.
Namun, pada saat yang sama, siswa harus menghadapi tugas akademik, perubahan fisik dan emosional, hubungan pertemanan, ekspektasi keluarga, serta keputusan mengenai masa depan.
1. Tekanan Belajar dan Target Nilai

Belajar merupakan bagian utama kehidupan pelajar.
Tetapi jadwal sekolah yang padat, pekerjaan rumah, les tambahan, proyek kelompok, ulangan, dan target nilai yang terlalu tinggi bisa membuat siswa merasa kewalahan.
Tekanan menjadi semakin berat ketika nilai dianggap sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan anak.
Anak kemudian merasa bahwa:
- nilai buruk berarti dirinya gagal;
- prestasi teman merupakan ancaman;
- istirahat adalah bentuk kemalasan;
- kesalahan tidak boleh terjadi.
Padahal kemampuan anak tidak hanya terlihat dari nilai akademik.
Ada pula kemampuan sosial, seni, olahraga, kreativitas, komunikasi, pemecahan masalah, serta keterampilan praktis.
Bagaimana Orang Tua Bisa Membantu?
- Fokus pada proses belajar, bukan hanya angka.
- Jangan membandingkan anak dengan saudara atau teman.
- Berikan waktu istirahat dan bermain.
- Dengarkan kesulitan anak sebelum memberikan ceramah.
- Bicarakan target yang realistis bersama anak.
2. Ujian, Seleksi Sekolah, dan Persaingan Akademik
Ujian Nasional bukan lagi penentu kelulusan seperti pada masa lalu.
Saat ini terdapat Tes Kemampuan Akademik atau TKA yang digunakan untuk memberikan gambaran capaian akademik terstandar.
TKA tidak wajib dan bukan penentu kelulusan.
Meski begitu, siswa tetap dapat mengalami tekanan karena:
- ujian sekolah;
- seleksi masuk sekolah;
- seleksi masuk perguruan tinggi;
- target nilai rapor;
- persaingan jalur prestasi;
- harapan keluarga.
Tekanan akademik tidak boleh dibiarkan berubah menjadi rasa takut berlebihan terhadap kegagalan.
Nilai ujian penting, tetapi tidak menentukan seluruh masa depan seseorang.
3. Bullying atau Perundungan

Perundungan bisa terjadi dalam bentuk:
- ejekan;
- pengucilan;
- ancaman;
- kekerasan fisik;
- penyebaran rumor;
- pelecehan seksual;
- pemerasan;
- perundungan digital.
Korban bullying dapat merasa takut datang ke sekolah, kehilangan rasa percaya diri, mengalami gangguan tidur, sulit berkonsentrasi, atau menarik diri dari pergaulan.
Bullying bukan sekadar “bercanda”.
Kalau seseorang sudah merasa terancam, dipermalukan, atau disakiti secara berulang, masalah tersebut harus ditangani.
Apa yang Bisa Dilakukan Korban?
- Ceritakan kepada orang dewasa yang dipercaya.
- Simpan bukti pesan, foto, atau unggahan jika terjadi secara online.
- Jangan menghadapi pelaku sendirian jika merasa tidak aman.
- Laporkan kepada guru, sekolah, atau pihak berwenang sesuai tingkat risikonya.
4. Cyberbullying dan Tekanan dari Media Sosial
Dulu, perundungan mungkin berhenti ketika anak pulang dari sekolah.
Sekarang, pesan, komentar, grup percakapan, dan unggahan media sosial membuat tekanan bisa berlanjut sepanjang hari.
Anak dan remaja dapat menghadapi:
- komentar mengenai penampilan;
- penyebaran foto tanpa izin;
- akun palsu;
- ancaman anonim;
- pengucilan dari grup;
- tuntutan untuk selalu terlihat populer.
Penggunaan perangkat digital juga membuat seseorang mudah membandingkan hidupnya dengan versi terbaik kehidupan orang lain.
Jika aktivitas online sudah membuat suasana hati memburuk, coba kurangi paparan dan buat batas penggunaan perangkat.
Kamu juga bisa membaca alasan mengapa menyimpan gadget sejenak saat liburan dapat membantu kita lebih menikmati lingkungan sekitar.
5. Penolakan Teman dan Kesulitan Bergaul

Penerimaan dari teman sebaya sangat penting bagi banyak anak dan remaja.
Ketika ditolak dari kelompok, tidak diajak bermain, atau merasa berbeda, siswa bisa mengalami:
- kesepian;
- rasa malu;
- menurunnya kepercayaan diri;
- kecemasan sosial;
- keengganan datang ke sekolah.
Orang tua tidak perlu memaksa anak mempunyai banyak teman.
Satu atau dua hubungan yang aman dan suportif sering kali jauh lebih berarti daripada terlihat populer tetapi terus merasa tidak nyaman.
6. Tuntutan dan Obsesi Orang Tua

Sebagian orang tua mempunyai harapan besar mengenai sekolah, pekerjaan, atau masa depan anak.
Harapan sebenarnya bisa menjadi dukungan.
Namun, harapan berubah menjadi tekanan ketika anak tidak diberi ruang untuk:
- mengungkapkan pendapat;
- memilih kegiatan;
- mengenali bakat;
- melakukan kesalahan;
- menentukan tujuan hidup.
Memasukkan anak ke banyak kursus tidak selalu berarti membantu perkembangan.
Kalau jadwal anak penuh dari pagi sampai malam tanpa waktu bermain dan beristirahat, kegiatan tersebut justru bisa menjadi beban.
7. Konflik dan Ketidakamanan di Rumah
Anak bisa mengalami stres ketika rumah yang seharusnya menjadi tempat aman justru dipenuhi:
- pertengkaran;
- kekerasan;
- teriakan;
- ancaman perceraian;
- masalah ekonomi;
- pengabaian;
- perbandingan antarsaudara.
Anak mungkin tidak selalu mengerti masalah orang dewasa, tetapi mereka bisa merasakan ketegangan di rumah.
Perubahan perilaku seperti mudah marah, sulit tidur, sakit perut berulang, atau prestasi menurun perlu diperhatikan.

8. Kebingungan Memilih Sekolah atau Jurusan
Menjelang lulus, siswa harus menentukan langkah berikutnya.
Pertanyaannya bisa terasa sederhana:
“Mau kuliah di mana?”
Namun, di baliknya ada banyak kekhawatiran:
- takut salah jurusan;
- khawatir tidak diterima;
- biaya pendidikan;
- keinginan orang tua;
- belum mengenal kemampuan diri;
- takut tertinggal dari teman.
Siswa perlu diberi kesempatan mengeksplorasi pilihan, berbicara dengan guru BK, alumni, mahasiswa, atau profesional di bidang yang diminati.
Penyebab Stres pada Masa Kuliah
Masa kuliah merupakan periode transisi dari remaja menuju dewasa.
Mahasiswa mulai mendapatkan kebebasan lebih besar, tetapi juga harus mengatur waktu, uang, hubungan, dan keputusan akademik secara mandiri.
9. Beradaptasi dengan Kehidupan Mandiri
Mahasiswa yang merantau perlu menyesuaikan diri dengan:
- lingkungan baru;
- budaya berbeda;
- tempat tinggal;
- teman baru;
- makanan;
- transportasi;
- kehidupan tanpa pengawasan langsung keluarga.
Kebebasan bisa terasa menyenangkan, tetapi juga membingungkan.
Mahasiswa baru bisa merasa kesepian walaupun berada di tengah banyak orang.
Membangun rutinitas sederhana seperti makan teratur, tidur cukup, membersihkan kamar, dan menghubungi keluarga dapat membantu proses adaptasi.
10. Jadwal Kuliah, Tugas, dan Organisasi yang Terlalu Padat
Kuliah tidak hanya terdiri dari hadir di kelas.
Mahasiswa bisa menghadapi:
- makalah;
- praktikum;
- presentasi;
- proyek kelompok;
- organisasi;
- magang;
- pekerjaan paruh waktu.
Masalahnya bukan selalu karena jumlah kegiatan, tetapi karena semua kegiatan terasa mendesak pada saat yang bersamaan.
Cara Mengurangi Tekanan Jadwal
- Tulis seluruh tenggat dalam satu kalender.
- Pecah tugas besar menjadi pekerjaan kecil.
- Prioritaskan tugas berdasarkan urgensi.
- Berani menolak kegiatan tambahan.
- Sediakan waktu kosong untuk istirahat.
11. Masalah Keuangan Mahasiswa
Mahasiswa yang baru belajar mengatur uang bisa stres ketika dana bulanan habis sebelum waktunya.
Pemicunya antara lain:
- biaya kos;
- makan;
- transportasi;
- buku dan praktikum;
- kendaraan rusak;
- kebutuhan organisasi;
- gaya hidup bersama teman.
Tekanan menjadi lebih berat ketika keluarga juga sedang menghadapi masalah ekonomi.
Mencatat pemasukan dan pengeluaran bisa membantu melihat ke mana uang digunakan.
Bagi anak muda yang mulai belajar menabung, informasi mengenai tabungan yang ditujukan untuk generasi muda dapat menjadi salah satu referensi awal, tetapi tetap bandingkan biaya dan fitur sebelum memilih produk keuangan.
12. IPK, Beasiswa, dan Takut Gagal
Indeks Prestasi Kumulatif atau IPK sering dianggap sebagai ukuran keberhasilan utama mahasiswa.
Nilai memang penting untuk beberapa peluang akademik dan pekerjaan.
Namun, tekanan berlebihan dapat membuat mahasiswa merasa seluruh harga dirinya ditentukan oleh angka.
IPK sebaiknya dilihat bersama dengan:
- keterampilan;
- pengalaman;
- portofolio;
- kemampuan komunikasi;
- integritas;
- jejaring profesional.
13. Merasa Salah Jurusan
Tidak semua mahasiswa langsung merasa cocok dengan jurusan yang dipilih.
Ada yang menyadari minatnya berubah.
Ada pula yang memilih jurusan karena tekanan keluarga, keterbatasan pilihan, atau belum mengenal dirinya saat lulus sekolah.
Merasa salah jurusan tidak selalu berarti harus langsung berhenti kuliah.
Pertimbangkan beberapa pilihan:
- berbicara dengan dosen pembimbing;
- mengambil mata kuliah pilihan;
- mengembangkan keterampilan lain;
- mengikuti magang;
- berpindah jurusan jika memungkinkan;
- menyelesaikan kuliah sambil membangun jalur karier berbeda.
14. Skripsi dan Pertanyaan “Kapan Lulus?”
Mahasiswa tingkat akhir sering menghadapi kombinasi tekanan:
- penelitian tidak berjalan;
- dosen sulit ditemui;
- revisi berkali-kali;
- biaya kuliah bertambah;
- teman sudah lulus;
- keluarga terus bertanya.
Pertanyaan “kapan lulus?” mungkin terdengar ringan bagi penanya, tetapi dapat terasa menyakitkan bagi mahasiswa yang sedang berjuang.
Lebih baik menanyakan:
“Ada yang bisa aku bantu?”
15. Hubungan Asmara dan Pertemanan
Masa kuliah sering menjadi periode ketika hubungan terasa lebih serius.
Konflik bisa muncul karena:
- perbedaan rencana masa depan;
- kecemburuan;
- hubungan jarak jauh;
- komunikasi yang buruk;
- putus hubungan;
- relasi yang manipulatif atau penuh kekerasan.
Hubungan yang sehat seharusnya tidak membuat seseorang terus merasa takut, dikontrol, dipermalukan, atau dijauhkan dari teman dan keluarga.
Penyebab Stres Saat Memasuki Dunia Kerja
Setelah lulus, seseorang mulai menghadapi tuntutan kemandirian yang lebih besar.
Biaya hidup, pekerjaan, target karier, dan harapan keluarga datang pada waktu yang hampir bersamaan.
16. Sulit Mendapatkan Pekerjaan
Mencari pekerjaan dapat memakan waktu lebih lama daripada yang dibayangkan.
Pelamar harus menghadapi:
- lowongan yang terbatas;
- persaingan;
- persyaratan pengalaman;
- penolakan;
- wawancara;
- ketidakjelasan proses rekrutmen.
Penolakan kerja tidak selalu berarti seseorang tidak kompeten.
Bisa jadi kandidat lain lebih sesuai dengan kebutuhan posisi tersebut.
Perbaiki CV, perluas keterampilan, dan buat lamaran yang lebih relevan. Salah satu referensi yang dapat digunakan adalah panduan membuat cover letter yang lebih menarik perhatian perekrut.
17. Beban Kerja Terlalu Banyak
Pekerjaan bisa menjadi sumber makna, penghasilan, dan rasa percaya diri.
Namun, lingkungan kerja juga dapat menjadi pemicu stres ketika terdapat:
- beban kerja berlebihan;
- target tidak realistis;
- kekurangan tenaga;
- jam kerja terlalu panjang;
- pesan pekerjaan di luar jam kerja;
- waktu istirahat yang tidak cukup.
Pekerjaan yang terus mengikuti sampai ke rumah membuat tubuh dan pikiran sulit memasuki masa pemulihan.
18. Atasan, Rekan Kerja, dan Budaya Kantor yang Tidak Sehat
Lingkungan kerja menjadi berat ketika terdapat:
- perundungan;
- pelecehan;
- diskriminasi;
- komunikasi kasar;
- persaingan tidak sehat;
- peran kerja yang tidak jelas;
- atasan yang selalu menyalahkan bawahan.
Desain kantor yang nyaman memang dapat membantu, tetapi kesehatan mental pekerja tidak cukup diselesaikan dengan ruang kerja yang terlihat bagus.
Kalau penasaran dengan lingkungan kerja modern, kamu dapat melihat beberapa gedung perkantoran di Jakarta, tetapi budaya organisasi dan sistem kerja tetap menjadi faktor yang jauh lebih penting.
19. Ketidakamanan Kerja dan Ancaman PHK
Pekerja kontrak, pekerja informal, freelancer, dan pegawai di industri yang sedang tidak stabil bisa menghadapi ketidakpastian penghasilan.
Pikiran seperti:
“Kalau bulan depan tidak ada pekerjaan bagaimana?”
dapat muncul setiap hari.
Ketidakamanan kerja juga membuat sebagian orang takut menyampaikan masalah kepada atasan karena khawatir kontraknya tidak diperpanjang.
20. Karier Tidak Sesuai Minat
Tidak semua orang bisa bekerja sesuai passion.
Dan tidak semua pekerjaan harus menjadi sumber kebahagiaan utama.
Namun, stres dapat muncul ketika seseorang:
- tidak melihat makna dalam pekerjaannya;
- merasa keterampilannya tidak digunakan;
- tidak mempunyai kesempatan berkembang;
- terjebak karena kebutuhan ekonomi.
Sebelum berhenti secara mendadak, pertimbangkan situasi keuangan, peluang kerja, keterampilan yang perlu dikembangkan, dan rencana transisi.
21. Work-Life Balance yang Tidak Seimbang
Konflik antara pekerjaan dan kehidupan pribadi menjadi sumber tekanan ketika seseorang:
- selalu bekerja saat akhir pekan;
- tidak mempunyai waktu bersama keluarga;
- tetap membalas pesan saat sakit;
- tidak pernah mengambil cuti;
- merasa bersalah ketika beristirahat.
Istirahat bukan kemalasan.
Waktu pemulihan membantu seseorang mempertahankan energi dan kemampuan bekerja dalam jangka panjang.
Penyebab Stres pada Kehidupan Dewasa dan Keluarga
22. Masalah Keuangan dan Biaya Hidup
Keuangan menjadi salah satu sumber tekanan paling nyata dalam kehidupan orang dewasa.
Pemicunya dapat berupa:
- penghasilan tidak cukup;
- utang;
- cicilan rumah atau kendaraan;
- biaya pendidikan anak;
- biaya kesehatan;
- kehilangan pekerjaan;
- pengeluaran tidak terduga.
Stres keuangan sering membuat seseorang sulit tidur dan mudah bertengkar dengan keluarga.
Langkah Awal Menghadapi Stres Keuangan
- Catat jumlah utang dan tanggal pembayaran.
- Bedakan kebutuhan dan keinginan.
- Prioritaskan kebutuhan pokok.
- Hindari menutup utang dengan utang baru tanpa perhitungan.
- Diskusikan kondisi secara terbuka dengan pasangan.
- Cari bantuan perencanaan keuangan jika diperlukan.
23. Tekanan untuk Segera Menikah
Pertanyaan “kapan menikah?” masih sering muncul dalam pertemuan keluarga.
Bagi sebagian orang, pertanyaan tersebut mungkin dianggap candaan.
Namun, bagi orang yang sedang menghadapi masalah hubungan, ekonomi, kesehatan, atau belum menemukan pasangan, pertanyaan berulang bisa terasa membebani.
Menikah bukan perlombaan.
Setiap orang mempunyai kondisi dan waktu yang berbeda.
Bagi pasangan yang memang sedang mempersiapkan pernikahan, urusan administratif seperti foto buku nikah sebaiknya dipersiapkan tanpa mengorbankan waktu istirahat dan kesehatan.
24. Konflik dalam Pernikahan
Kehidupan rumah tangga membutuhkan komunikasi, pembagian tanggung jawab, dan kemampuan menyelesaikan masalah.
Konflik dapat muncul karena:
- keuangan;
- pengasuhan anak;
- pekerjaan rumah;
- keluarga besar;
- kepercayaan;
- kurangnya waktu bersama;
- perbedaan nilai.
Quality time tidak selalu harus mahal.
Berjalan, makan bersama, atau mengunjungi salah satu tempat wisata romantis di Jogja bisa menjadi kesempatan untuk berkomunikasi, tetapi liburan bukan pengganti penyelesaian konflik yang serius.
25. Beban Pengasuhan Anak
Orang tua perlu mengatur pekerjaan, kebutuhan anak, pendidikan, kesehatan, serta kehidupan rumah tangga.
Tekanan pengasuhan bisa semakin berat bagi:
- orang tua tunggal;
- keluarga tanpa dukungan pengasuhan;
- orang tua anak berkebutuhan khusus;
- keluarga yang mengalami kesulitan ekonomi;
- orang tua yang juga merawat anggota keluarga lansia.
Meminta bantuan bukan berarti gagal menjadi orang tua.
26. Merawat Anggota Keluarga yang Sakit
Caregiver atau orang yang merawat anggota keluarga sakit bisa mengalami kelelahan fisik dan emosional.
Mereka sering mengabaikan kebutuhan sendiri karena merasa harus selalu siap.
Padahal caregiver juga membutuhkan:
- waktu istirahat;
- dukungan keluarga;
- informasi medis yang jelas;
- kesempatan berbicara;
- pembagian tugas.
Jika membutuhkan pelayanan kesehatan jiwa atau spesialis lain, daftar seperti rumah sakit di Jakarta Timur beserta fasilitasnya dapat menjadi titik awal pencarian, tetapi pastikan mengecek layanan terbaru langsung ke fasilitas kesehatan.
27. Penyakit Kronis dan Kondisi Kesehatan
Diagnosis penyakit, nyeri berkepanjangan, keterbatasan aktivitas, serta biaya pengobatan dapat menjadi sumber stres.
Stres juga bisa membuat seseorang lebih peka terhadap keluhan fisik yang sudah ada.
Keluhan otot dan nyeri dapat semakin terasa ketika seseorang bekerja terlalu lama dalam posisi yang tidak nyaman. Karena itu, perhatikan pula posisi tubuh yang dapat memperburuk keluhan kesehatan.
28. Tuntutan Kemapanan dan Perbandingan Sosial
Seseorang sering merasa tertinggal ketika melihat teman sudah:
- membeli rumah;
- mempunyai kendaraan;
- menikah;
- memiliki anak;
- mendapat promosi;
- liburan ke luar negeri.
Masalahnya, kita biasanya hanya melihat hasil akhir.
Kita tidak mengetahui utang, konflik, kegagalan, atau pengorbanan yang tidak ditampilkan.
Menjalani hidup berdasarkan standar orang lain akan terasa melelahkan.
Untuk refleksi mengenai prioritas hidup, kamu bisa membaca cara menjalani hidup yang lebih berguna dan bermakna.
Penyebab Stres dari Kehidupan Digital
29. Kebiasaan Membandingkan Diri
Media sosial dipenuhi foto pencapaian, perjalanan, pekerjaan, tubuh ideal, rumah, dan hubungan yang terlihat sempurna.
Jika dikonsumsi terus-menerus, seseorang bisa merasa hidupnya kurang berhasil.
Padahal unggahan bukan gambaran lengkap kehidupan.
Budaya selfie dan pencitraan juga dapat memengaruhi kepercayaan diri. Artikel mengenai alasan sebagian orang tidak menyukai selfie menunjukkan bahwa hubungan setiap orang dengan citra diri dan kamera bisa berbeda.
30. Informasi yang Tidak Pernah Berhenti
Notifikasi berita, pekerjaan, grup keluarga, promosi, dan media sosial membuat otak terus menerima rangsangan.
Seseorang mungkin merasa harus selalu:
- membaca pesan;
- membalas komentar;
- mengikuti berita;
- mengetahui tren;
- merespons pekerjaan.
Batas digital bisa dibuat dengan:
- mematikan notifikasi yang tidak penting;
- tidak membawa smartphone ke tempat tidur;
- menentukan jam berhenti bekerja;
- menetapkan waktu tanpa media sosial.
31. Kurang Tidur karena Smartphone
Kebiasaan scrolling sampai larut membuat waktu tidur berkurang.
Ketika kurang tidur, seseorang bisa lebih mudah:
- marah;
- sulit fokus;
- lelah;
- mengambil keputusan buruk;
- merasa kewalahan.
Tidur cukup bukan solusi untuk semua masalah, tetapi kurang tidur dapat membuat tekanan yang ada terasa lebih berat.
Tanda-Tanda Seseorang Sedang Mengalami Stres

Tanda Fisik
- Sakit kepala.
- Otot tegang atau nyeri.
- Gangguan pencernaan.
- Jantung terasa berdebar.
- Tubuh mudah lelah.
- Sulit tidur.
- Perubahan nafsu makan.
Tanda Emosional
- Mudah marah.
- Merasa cemas.
- Mudah menangis.
- Merasa kewalahan.
- Sulit merasa tenang.
- Kehilangan minat.
Tanda Kognitif
- Sulit berkonsentrasi.
- Pelupa.
- Sulit mengambil keputusan.
- Pikiran terus berputar.
- Selalu membayangkan hal buruk.
Perubahan Perilaku
- Menarik diri dari orang lain.
- Menunda pekerjaan.
- Makan terlalu banyak atau terlalu sedikit.
- Mengabaikan kebersihan diri.
- Merokok atau menggunakan zat lebih banyak.
- Sering absen dari sekolah atau kerja.
Satu gejala saja belum tentu menunjukkan masalah serius.
Yang perlu diperhatikan adalah apakah keluhan berlangsung lama, semakin berat, atau mengganggu aktivitas.
Cara Mengelola Stres dengan Lebih Sehat
1. Kenali Pemicu Utamanya
Jangan hanya mengatakan:
“Aku sedang stres.”
Coba buat lebih spesifik:
- Apakah karena tenggat?
- Masalah uang?
- Konflik keluarga?
- Kurang tidur?
- Lingkungan kerja?
- Hubungan?
Penyebab yang jelas lebih mudah ditangani.
2. Bedakan Masalah yang Bisa dan Tidak Bisa Dikendalikan
Kita tidak bisa mengendalikan semua hal.
Tetapi kita mungkin bisa mengendalikan:
- jadwal;
- cara berkomunikasi;
- jumlah kegiatan;
- pengeluaran;
- waktu menggunakan media sosial;
- permintaan bantuan.
3. Buat Rutinitas Sederhana
Ketika hidup terasa kacau, rutinitas membantu memberikan struktur.
Mulailah dari:
- bangun pada waktu yang konsisten;
- makan teratur;
- mengerjakan satu tugas pada satu waktu;
- tidur cukup;
- menyediakan jeda.
4. Bergerak dan Berolahraga
Aktivitas fisik dapat membantu tubuh melepaskan ketegangan.
Tidak harus langsung mengikuti latihan berat.
Kamu bisa:
- jalan kaki;
- bersepeda;
- jogging;
- peregangan;
- membersihkan rumah.
Bagi warga ibu kota, beberapa tempat jogging di Jakarta dapat menjadi pilihan untuk mulai bergerak di ruang terbuka.
5. Lakukan Kegiatan yang Menenangkan
Aktivitas menyenangkan dapat membantu tubuh masuk ke mode pemulihan.
Contohnya:
- membaca;
- memasak;
- mendengarkan musik;
- menggambar;
- berkebun;
- merawat hewan;
- berjalan di taman.
Berkebun bisa menjadi kegiatan ringan untuk mengalihkan pikiran. Kamu dapat memulai dengan mengenali beberapa bunga hias yang cocok ditanam di rumah.
Alternatif lainnya adalah mengunjungi ruang hijau seperti taman-taman di Jakarta Timur untuk berjalan santai bersama keluarga.
6. Berbicara dengan Orang yang Dipercaya
Berbicara tidak selalu langsung menyelesaikan masalah.
Namun, dukungan sosial dapat mengurangi rasa sendirian.
Pilih orang yang:
- mau mendengarkan;
- tidak meremehkan;
- tidak menyebarkan cerita;
- tidak langsung menghakimi.
Bertemu teman di tempat yang nyaman, misalnya salah satu tempat ngopi di Surabaya, bisa menjadi kesempatan untuk berbicara dan beristirahat. Namun, pastikan percakapan tetap menghormati privasi semua pihak.
7. Ambil Jeda dari Rutinitas
Liburan dapat membantu seseorang beristirahat dari rutinitas.
Tapi traveling bukan obat untuk semua stres.
Masalah pekerjaan, utang, atau hubungan mungkin masih perlu diselesaikan setelah pulang.
Gunakan liburan sebagai jeda, bukan pelarian permanen.
Destinasi alam seperti Dusun Bambu Bandung dapat menjadi pilihan untuk menikmati aktivitas luar ruangan dan suasana berbeda.
8. Perbaiki Lingkungan Kerja
Kalau stres berasal dari pekerjaan, solusi tidak boleh selalu dibebankan kepada pekerja.
Organisasi juga perlu memperbaiki:
- beban kerja;
- jumlah staf;
- jam kerja;
- komunikasi;
- perlindungan dari bullying;
- dukungan manajer;
- kejelasan peran.
9. Cari Bantuan Profesional
Psikolog, psikiater, dokter, konselor, dan tenaga kesehatan lain dapat membantu sesuai kebutuhan.
Mencari bantuan bukan berarti masalahmu “parah sekali”.
Konsultasi lebih awal justru dapat membantu sebelum keluhan semakin berat.
Kapan Stres Perlu Mendapatkan Pertolongan Profesional?
Pertimbangkan mencari bantuan jika stres:
- berlangsung berminggu-minggu;
- mengganggu sekolah atau pekerjaan;
- membuat sulit tidur hampir setiap malam;
- menyebabkan serangan panik;
- membuat seseorang menarik diri sepenuhnya;
- menimbulkan penggunaan alkohol atau zat lain;
- membuat seseorang tidak mampu merawat diri;
- disertai pikiran menyakiti diri.
Jika kamu atau seseorang di dekatmu merasa berada dalam bahaya atau mempunyai dorongan untuk menyakiti diri, jangan tinggalkan orang tersebut sendirian.
Segera beri tahu orang yang dipercaya dan datang ke IGD atau fasilitas kesehatan terdekat untuk mendapatkan bantuan langsung.
Hal yang Sebaiknya Tidak Dikatakan kepada Orang yang Sedang Stres
- “Kurang bersyukur.”
- “Orang lain lebih susah.”
- “Jangan dipikirkan.”
- “Kamu terlalu lemah.”
- “Semua itu cuma ada di pikiran.”
- “Coba lebih banyak ibadah saja.”
Dukungan spiritual bisa membantu sebagian orang.
Namun, dukungan spiritual tidak harus menggantikan pemeriksaan medis atau psikologis ketika memang dibutuhkan.
Apa yang Bisa Dikatakan?
- “Aku mau mendengarkan.”
- “Kamu tidak harus menghadapi ini sendirian.”
- “Apa yang paling kamu butuhkan sekarang?”
- “Mau aku temani mencari bantuan?”
- “Perasaanmu penting.”
FAQ Seputar Penyebab Stres
Apakah stres selalu buruk?
Tidak. Tekanan ringan yang masih bisa dikelola dapat membantu seseorang lebih fokus dan termotivasi. Masalah muncul ketika stres terlalu berat, menetap, dan mengganggu fungsi sehari-hari.
Apa penyebab stres paling umum pada pelajar?
Tekanan belajar, ujian, bullying, konflik keluarga, penolakan teman, tuntutan orang tua, serta kebingungan mengenai pendidikan berikutnya termasuk pemicu yang sering muncul.
Apakah TKA menentukan kelulusan siswa?
Tidak. TKA merupakan asesmen capaian akademik yang bersifat tidak wajib dan bukan penentu kelulusan.
Apa penyebab stres pada mahasiswa?
Adaptasi hidup mandiri, tugas kuliah, masalah keuangan, IPK, salah jurusan, skripsi, hubungan, dan ketidakpastian karier termasuk pemicu yang sering dialami mahasiswa.
Apa penyebab stres di tempat kerja?
Beban berlebihan, jam kerja panjang, kontrol kerja rendah, ketidakamanan pekerjaan, gaji yang tidak memadai, bullying, diskriminasi, serta konflik pekerjaan dan rumah tangga dapat meningkatkan tekanan.
Apakah media sosial bisa menyebabkan stres?
Media sosial tidak selalu buruk. Namun, cyberbullying, perbandingan sosial, paparan informasi berlebihan, serta tuntutan untuk selalu terhubung dapat meningkatkan tekanan bagi sebagian orang.
Apakah traveling bisa menyembuhkan stres?
Traveling dapat memberikan waktu istirahat dan pengalaman menyenangkan, tetapi tidak otomatis menyelesaikan penyebab utama stres. Masalah keuangan, pekerjaan, hubungan, atau kesehatan tetap perlu ditangani.
Bagaimana cara mengetahui stres sudah berlebihan?
Perhatikan apakah keluhan menetap, mengganggu tidur, sekolah, pekerjaan, hubungan, kemampuan merawat diri, atau menimbulkan pikiran menyakiti diri.
Apakah orang yang terlihat bahagia bisa mengalami stres?
Bisa. Penampilan dan unggahan media sosial tidak selalu menunjukkan kondisi emosional seseorang.
Siapa yang bisa membantu menangani stres?
Dukungan dapat diperoleh dari keluarga, teman, guru BK, konselor, psikolog, dokter, psikiater, atau tenaga kesehatan lain sesuai kebutuhan.
Kesimpulan
Penyebab stres yang dialami orang Indonesia sangat beragam dan berubah mengikuti fase kehidupan.
Pada masa sekolah, tekanan sering berkaitan dengan:
- belajar;
- ujian;
- bullying;
- pertemanan;
- tuntutan keluarga.
Pada masa kuliah, pemicunya bisa berupa:
- adaptasi;
- tugas;
- keuangan;
- IPK;
- skripsi;
- kebingungan karier.
Sementara pada masa dewasa, stres sering muncul dari:
- pekerjaan;
- ketidakamanan penghasilan;
- utang dan biaya hidup;
- pernikahan;
- pengasuhan;
- kesehatan;
- tuntutan kemapanan.
Teknologi dan media sosial juga menambah jenis tekanan baru berupa cyberbullying, informasi berlebihan, gangguan tidur, dan kebiasaan membandingkan diri.
Stres bukan tanda kelemahan.
Namun, stres juga tidak sebaiknya dibiarkan begitu saja ketika sudah mengganggu kehidupan.
Kenali pemicunya.
Buat perubahan kecil pada hal yang bisa dikendalikan.
Beristirahat.
Berbicara dengan orang tepercaya.
Dan jangan ragu mencari bantuan profesional.
Karena tujuan mengelola stres bukan membuat hidup terbebas dari semua masalah.
Tujuannya adalah membantu kita menghadapi masalah tanpa kehilangan kesehatan, hubungan, dan diri sendiri.
Referensi
- World Health Organization – Stress
- World Health Organization – Mental Health at Work
- World Health Organization – Adolescent Mental Health
- Kementerian Kesehatan RI – Temuan Skrining Kesehatan Mental Anak 2026
- BKPK Kementerian Kesehatan – Fact Sheet Survei Kesehatan Indonesia 2023
- Ayo Sehat Kementerian Kesehatan – Pengertian dan Jenis Stres
- UNICEF Indonesia – Indonesia Adolescent Health Profile 2024
- UNICEF Indonesia – Bullying in Indonesia
- UNICEF Indonesia – Pengetahuan dan Kebiasaan Daring Anak di Indonesia
- Kemendikdasmen – FAQ Tes Kemampuan Akademik